BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan dilakukan manusia
sepanjang hayatnya atau dikenal dengan istilah long life education. Makna kata
tersebut mengharuskan manusia untuk menjalani pendidikan selama manusia
tersebut melakukan tugasnya setiap hari. Pendidikan anak usia dini merupakan
jenjang pendidikan usia nol sampai enam tahun.
Usia nol sampai enam tahun
merupakan masa peka bagi anak sehingga para ahli menyebutnya masa golden age,
karena perkembangan kecerdasannya mengalami peningkatan yang sangat pesat dan
sebagai penanaman karakter dimasa usia anak mencapai dewasa.
Pendidikan karakter pada anak usia
dini dilakukan melalui penanaman kebiasaan tentang perilaku yang baik dalam
kehidupan, sehingga anak memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, kepedulian
serta menerapkan kebaikan dalam kehidupan sosial.
Perilaku sosial merupakan aktivitas
yang dilakukan dengan berhubungan pada orang disekitar kita, baik itu keluarga,
teman, guru dan masyarakat. Ketika anak berhubungan dengan orang lain maka akan
terjadi interaksi sosial yang dapat memacu emosi yang diwujudkan dalam suatu
tindakan.
Emosi merupakan suatu keadaan
perasaan yang bergejolak dalam diri seseorang yang disadari dan dan diungkapkan
melalui tindakan. Dalam pengungkapan emosi anak dalan kehidupan sosial maka
dibutuhkan adanya evaluasi atau penilaian baik buruknya perilaku anak tersebut.
Maka dari itu kami merasa tertarik untuk membahas tentang pengembangan sosial
emosi pada anak usia dini dengan judul “Evaluasi
pengembangan sosial emosi pada anak usia dini”.
B.
Rumusan
Masalah
Untuk mempermudah proses pembuatan
makalah, maka kami merumuskan masalah-masalah sebagai berikut :
a.
Apa hakikat evaluasi pengembangan sosial
emosi ?
b.
Bagaimana model evaluasi pengembangan
sosial emosi pada anak usia dini ?
c.
Bagaimana prosedur evaluasi pengembangan
sosial emosi pada anak usia dini ?
d.
Bagaimana prosedur penilaian sosial
emosional pada anak usia dini ?
C.
Tujuan
Dengan melihat pada rumusan masalah
yang dibuat, maka tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
a.
Untuk mengetahui hakikat evaluasi
pengembangan sosial emosi
b.
Untuk mengetahui model evaluasi
pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
c.
Untuk mengetahui prosedur evaluasi
pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
d.
Untuk mengetahui prosedur penilaian
sosial emosional pada anak usia dini
D.
Manfaat
Dengan adanya penelitian ini maka
banyak sekali manfaat yang diperoleh diantaranya :
a.
Bagi penulis :
·
Dapat memperoleh data dan informasi
tentang evaluasi pengembangan emosi pada anak usia dini
·
Dapat mempererat kerjasama kelompok
dalam menyusun makalah
·
Menambah pengalaman dan wawasan dalam
pembuatan makalah
b.
Bagi pembaca :
·
Mendapatkan pengetahuan tentang evaluasi
pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
·
Untuk memotifasi agar mampu membuat
makalah yang lebih baik
E.
Metode
Dalam penyusunan makalah ini
metode-metode yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.
Pengumpulan data :
Yaitu
pengumpulan data-data dari buku yang mencakup permasalahan yang akan dibahas
oleh penulis.
b.
Kajian pustaka
Yaitu
kajian mengenai keadaan riil lapangan antara konsep para ahli dan penelitian di
lapagan.
F.
Sistematika
Penulisan
BAB
I : Pendahuluan, meliputi :
Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Manfaat, Metode, Sistematika Penulisan.
BAB
II : Pembahasan, meliputi :
Hakikat Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi, Model Evaluasi Pengembangan Sosial
Emosi Pada Anak Usia Dini, Prosedur Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi Pada
Anak Usia Dini, Pelaporan Evaluasi Penilaian Pengembangan Sosial Emosi Pada
Anak Usia Dini.
BAB
III : Kesimpulan dan Saran.
BAB II
PEMBAHASAN
- Hakikat Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi
a. Pengertian
Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang tidak
mungkin dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran diakhiri
dengan kegiatan evaluasi untuk dapat menilai proses dan hasil belajar
secara objektif. Ada beberapa pengertian evaluasi menurut para ahli, sebagai
berikut diantaranya :
a)
Linn dan
Gronlund
Evaluasi merupakan proses yang sistematis untuk
pengumpulan, penganalisisan, dan penafsiran data/informasi demi menentukan
sejauh mana anak dapat mencapai tujuan pembelajaran.
b)
Ralph tayler
Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data dan
menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagian mana tujuan pendidikan sudah
tercapai.
c)
guba
Evaluasi merupakan suatu proses memberikan
pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu itu
dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, dll.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa, evaluasi merupakan suatu proses memilih, mengumpulkan dan menafsirkan
data untuk membuat keputusan serta penyusunan program selanjutnya. Informasi
hasil evaluasi diperlukan sebagai masukan bagi pengambilan keputusan mengenai
program dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan mengetahui apakah kegiatan
pembelajaran sudah mencapai tujuan atau belum.
Evaluasi pada pendidikan anak usia dini merupakan
usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan,
serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan
yang telah dicapai anak melalui kegiatan belajar. Bentuk penilaian di PAUD atau
TK disebut asesmen yaitu suatu proses pengamatan, pencatatan dan
pendokumentasian kinerja dan karya anak didik dan bagaimana ia melakukannya
sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan anak sebagai acuan langkah
kedepannya. Beberapa pengertian asesmen menurut beberapa ahli yaitu :
·
Menurut NSW departement
of Education (dikutip Arthur, 1996:324)
Asesmen adalah proses pengumpulan fakta – fakta dan
membuat keputusan tentang kebutuhan, kekuatan, kemampuan dan kemajuan siswa.
- Menurut jamaris ( dalam makalah Asesmen Perkembangan Anak Usia TK berbasis kecerdasan Jamak, 2004 )
Asesmen merupakan suatu proses kegiatan yang
dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data atau bukti – bukti tentang
perkembangan dan hasil belajar anak usia dini.
- Menurut Hill (1993)
Asesmen adalah proses pengumpulan peristiwa /
informasi dan mendokumentasikan pembelajaran dan pertumbuhan anak.
Asesmen tidak digunakan untuk mengukur keberhasilan
suatu program tetapi untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan kemajuan
belajar anak. Asesmen tidak dilakukan diakhir program tetapi dilakukan secara
bertahap dan berkesinambungan sehingga kemajuan peserta didik dapat diketahui yaitu
dengan mengamati tindak tanduk anak saat bermain, menggambar atau pun dari karya
– karya anak yang lainnya.
b. Perkembangan
sosial emosional
Perkembangan sosial emosional merupakan dua aspek yang
berlainan namun dalam kenyataannya satu sama lain saling mempengaruhi.
Perkembangan sosial sangat erat hubungannya dengan perkembangan emosional,
walaupun masing-masing ada kekhususannya. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam
hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan
diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi
satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Anak dilahirkan belum bersifat
sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang
lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara
menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui
berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya,
baik orangtua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.
Pengertian perkembangan sosial adalah
sebuah proses interaksi yang dibangun oleh seseorang dengan orang lain.
Perkembangan sosial ini berupa jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai
dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas.
Perkembangan sosial adalah proses belajar mengenal normal dan peraturan dalam
sebuah komunitas. Manusia akan selalu hidup dalam kelompok, sehingga
perkembangan sosial adalah mutlak bagi setiap orang untuk di pelajari,
beradaptasi dan menyesuaikan diri.
Sedangkan makna emosi menurut
Sukmadinata (2003 : 80) yaitu sebagai perpaduan dari beberapa perasaan yang
mempunya intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin.
Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari
emosi positif hingga yang bersifat negative. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa emosi adalah perasaan batin seseorang baik berupa pergolakan pikiran,
napsu, keadaan mental, dan fisik yang dapat muncul atau termanifestasi kedalam
bentuk-bentuk atau gejala-gejala seperti takut, cemas, marah, murung, kesal,
iri, cemburu, senang, kasih sayang, dan ingin tahu.
Dalam kaitannya dengan proses sosial,
emosi dapat muncul sebagai akibat adanya hubungan atau interaksi sosial antara
individu, kelompok dan masyarakat. Emosi dapat muncul sebagai reaksi eaksi
fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang tampak. Emosi pada anak usia
dini lebih kompleks dan real, karena anak cenderung mengekspresikan emosinya
dengan bebas dan terbuka.
Secara umum emosi mempunyai fungsi
untuk mencapai suatu pemuasan, pemenuhan, atau perlindungan diri, atau bahkan
kesejahtraan pribadi pada saat keadaaan tidak nyaman dengan lingkungan atau
objek tertentu.
c. Hakikat evaluasi pengembangan sosial emosi
Pada hakikatnya evaluasi atau
assessment pada pengembangan sosial emosional yaitu diantaranya :
·
Mengetahui
tingkat pencapaian kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran
berlangsung
·
Memberikan
umpan balik bagi anak didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam proses
pencapaian kompetensi
·
Memberikan
umpan balik bagi guru dalam mempperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan
sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran.
·
Bahan
pertimbangan guru dalam menempatkan anak didik sesuai dengan minat dan
kebutuhannya
·
Memberikan
pilihan alternative pada guru
·
Bahan
masukan bagi berbagai pihak dalam pembinaan selanjutnya terhadap anak didik
·
Menemukan
kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan anak
- Model Evaluasi Pengembangan Emosi pada Anak Usia Dini
Pada tahun 1949, Tyler pernah mengembangkan model black box. Setelah itu, belum terlihat ada model lain yang muncul
kepermukaan. Lebih kurang 10 tahun lamanya, orang-orang yang melakukan kegiatan
evaluasi hanya menggunakan model evaluasi tersebut. Hal ini mungkin disebabkan
evaluasi belum menjadi studi tersendiri. Karena itu, orang banyak mempelajari
evaluasi dari psikometrik dengan
kajian utamanya adalah tes dan pengukuran. Oleh sebab itu, evaluasi banyak
dilakukan oleh orang-orang yang “terbentuk”
dalam tes dan pengukuran. Studi tentang evaluasi belum banyak menarik perhatian
orang, karena kurang memiliki nilai praktis. Baru sekitar tahun 1960-an studi
evaluasi mulai berdiri sendiri menjadi salah satu program studi di perguruan
tinggi.
Selanjutnya, sekitar tahun 1972, model
evaluasi mulai berkembang. Tylor dan Cowley, misalnya berhasil mengumpulkan
berbagai pemikiran tentang model evaluasi dan menerbitkannya dalam suatu buku.
Model evaluasi yang dikembangkan lebih banyak menggunakan pendekatan
positivisme yang berakar pada teori psikometrik. Penggunaan desain eksperimen
seperti yang dikemukakaan Campbell dan Stanley (1963) menjadi ciri utama dari
model evaluasi. Berkembangnya model evaluasi pada tahun 70-an tersebut diawali
dengan adanya pandangan alternatif dari pada expert. Pandangan alternatif yang dilandasi sebuah paradigma
fenomenologi banyak menampilkan model evaluasi.
Tes dan pengukuran tidak lagi menjadi
parameter kualitas suatu studi evaluasi
yang dilakukan. Perkembangan lain yang menarik dalam model evaluasi ini adalah
adanya suatu upaya untuk bersikap eklektik dalam penggunaan pendekatan
positivisme maupun fenomenologi yang oleh Patton
(1980) disebut paradigm of choice.
Dalam studi tenteng evaluasi, banyak
sekali dijumpai model-model evaluasi dengan format atau sistematika yang
berbeda, sekalipun dalam beberapa model ada juga yang sama. Misalnya saja, Said HamidHasan (1988)mengelompokan
model evaluasi sebagai berikut:
1.
Model
evaluasi Kuantitatif , yang meliputi: model Tyler,
model teoretik Taylor dan Maguire, model pendekatan sistem Alkin,
model Countenance Stake, model CIPP,
model ekonomi mikro.
2.
Model
evaluasi Kualitatif, yang meliputi: model studi kasus, model iluminatif, dan
model responsif.
Sementara itu, Kaufman dan Thomas
dalam Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin AJ (2007) membedakan model evaluasi
menjadi delapan, yaitu:
1.
Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tayler.
2.
Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
3.
Formatif Sumatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
4.
Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
5.
Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
6.
CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi
dilakukan.
7.
Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.
Ada juga model evaluasi yang
dikelompokan oleh Nana Sudjana dan R.Ibrahim (2007 : 234) yang membagi model
evaluasi menjadi empat model utama, yait”measurement,
congruence, educational system dan illumination”. Dari beberapa diantaranya
akan dikemukakan secara singkat sebagai berikut :
a.
Model Tyler
Nama model ini diambil dari nama
pengembangnya yaitu Tyler. Dalam buku Besic
Principles of Curiculum and Instrucution, Tyler banyak mengemukakan ide dan
gagasannya tentang evaluasi. Model ini dibangun atas dua dasar. Pertama, evaluasi ditujukan pada tingkah
laku peserta didik. Kedua, evaluasi
harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan
kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegitan pembelajaran (hasil).
Dasar pemikiran yang kedua ini menunjukan bahwa seseorang evaluator harus dapat
menentukan perubahan tingkah laku apa yang terjadi setelah peserta didik
mengikuti pengalaman belajar tertentu, dan menegaskan bahwa perubahan yang terjadi
merupakan perubahan yang disebabkan oleh pembelajaran.
Penggunaan model Tyler memerlukan
informasi perubahan tingkah laku terutama pada saat sebelum dan sesudah
terjadinya pembelajaran. Istilah yang populer di kalangan guru adalah tes awal
(per-test) dan tes akhir (post-test). Model ini mensyaratkan
validitas informasi pada tes akhir. Untuk menjamin validitas ini, maka perlu
adanya kontrol dengan menggunakan desain eksperimen. Model tyler disebut juga
model Black box karena model ini
sangat menekankan adanya tes awal dan teks akhir. Dengan demikian, apa yang
terjadi dalam proses tidak perlu diperhatikan. Dimensi proses ini dianggap
sebagai kontak hitam yang menyimpan segala macam teka-teki.
Menurut Tyler, ada tiga pokok yang
harus dilakukan, yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang akan dievaluasi,
menentukan situsai di mana peserta didik memperoleh kesempatan untuk menunjukan
tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat evaluasi yang
akan dipergunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.
b.
Model yang Berorientasi pada Tujuan
Dalam pembelajaran, kita mengenal
adanya tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Kedua tujuan
tersebut dipakai sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluasi
diartikan sebagai proses pengukuran untuk mengetahui sejauh mana tujuan
pembelajaran telah tercapai. Model ini dianggap lebih praktis karena menentukan
hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur.
Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa terdapat hubungan yang logis antara kegiatan, hasil dan prosedur
pengukuran hasil. Tujuan model ini adalah membantu guru merumuskan tujuan dan
menjelaskan hubungan antara tujuan dengan kegiatan. Jika rumusan tujuan
pembelajaran dapat diobservasi (observable)
dan dapat diukur (measurable), maka
kegiatan evaluasi pembelajaran akan menjadi lebih praktis dan simpel.
Disamping itu, model ini dapat
membantu guru melaksanakan rencana pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan
proses pencapaian tujuan. Instrumen yang digunakan bergantung pad tujuan yang
ingin diukur. Hasil evaluasi akan menggambarkan tingkat keberhasilan tujuan
program pembelajaran berdasarkan kriteria program khusus. Kelebihan model ini
terletak pada peserta didik sebagai aspek penting dalam program pembelajaran.
Kekurangannya adalah memungkinkan terjadinya proses evaluasi melebihi
konsekuensi yang tidak diharapkan.
c.
Model Pengukuran
Model pengukuran (measurement model) banyak mengemukakan
pemikiran-pemikiran dari R.Thorndike dan R.L.Ebel. Sesuai dengan namanya, model
ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran. Pengukuran digunakan untuk
menentukan kuantitas suatu sifat (atribute)
tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit
ukuran tertentu. Dalam bidang pendidikan, model ini telah diterapkan untuk
mengungkap perbedaan-perbedaan individual maupaun kelompok dalam hal kemampuan,
minat, dan sikap. Hasil evalusai digunakan untuk keperluan seleksi peserta
didik, bimbingan dan perencanaan pendidikan.
Objek evaluasi dalam model ini adalah
tingkah laku peserta didik, mencakup hasil belajar (kognitif), pembawaan,
sikap, minat, bakat dan juga aspek-aspek keperibadian peserta didik. Instrumen
yang digunakan pada umumnya adalah tes tulis (paper and pencil test) dalam bentuk teks objektif, yang cenderung dibakukan.
Oleh sebab itu, dalam menganalisis soal sangat memperhatikan difficulty index dan index of discimination. Model ini menggunakan pendekatan Penilaian
Acuan Norma (norm-refernced assessment).
d.
Model Kesesuaian (Ralph W.Tyler, John
B.Carrol, and Lee J.Cronbach)
Menurut model ini, evaluasi adalah
suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian (congruence)
antara tujuan dengan hasil belajar yang telah dicapai. Hasil evaluasi yang
digunakan untuk menyempurnakan sistem
bimbingan peserta didik dan untuk memberikan informasi kepada
pihak-pihak yang memerlukan.
Objek evaluasi adalah tingkah laku
peserta didik, yaitu perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) pada akhir kegiatan pendidikan, baik yang
menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Untuk itu, teknik
evaluasi yang digunakan tidak hanya tes (tulisan, lisan, dan perbuatan), tetapi
juga non-tes (observasi, wawancara, skala sikap, dsb). Model evaluasi ini
memerlukan informasi perubahan tingkah laku pada dua tahap, yaitu sebelum dan
sesudah kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep itu, maka guru perlu
melakukan pre and post-text.
Adapun langkah-langkah yang harus
ditempuh dalam model evaluasi ini adalah merumuskan tujuan tingkah laku (behavioural objectives), menentukan situasi
dimana peserta didik dapat memperlihatkan tingkah laku yang akan dievaluasi,
menyusun alat evaluasi, dan menggunakan hasil evaluasi. Oleh sebab itu, model
ini menekankan pada pendekatan penilaian acuan patokan (criterion-referenced assessment).
e.
Educational System Evalu Ation Model
(Daniel L. Stufflebeam Micheal Scriven, Robert E. Stake dan Malcolm M. Provus)
Tokoh model ini, antara lain: Daniel
L.Stufflebeam, Michael Scriven, Robert E.Stake, dan Malcolm M.Provus. Menurut
model ini, evaluasi berarti membandingkan performance
dari berbagai dimensi(tidak hanya dimensi hasil saja) dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat
mutlak/intren maupun relatif/ekstern. Model ini menekankansistem sebagai suatu
keseluruhan ini dan merupakan penggabungan dari beberapa model, yaitu:
a)
Model
countenance dari Stake, yang meliputi
keadaan sebelum kegiatan berlangsung (antecedents),
kegiatan yang terjadi dan saling mempengaruhi (transactions), hasil yang diperoleh (outcomes). Model ini akan diuraikan lebih lanjut.
b)
Model CIPP dan CDPP dari Stufflebeam, CIPP yaitu Context, Input, Process, dan Product. CDPP yaitu context, design, process, product.
c)
Model Scriven yang meliputi instrumental
evaluation and consequential evaluation.
d)
Model Provus yang meliputi design,
operation program, interim products, dan terminal products.
e)
Model
EPIC (evaluative innovative curriculum).
Model ini mengevaluasi: (1) perilaku, yang meliputi kognitif, afektif, dan
psikomotor; (2) pembelajaran, yang meliputi organisasi, isi, metode, fasilitas
dan biaya; (3) institusi, yang meliputi peserta didik, guru, administrator,
spesialis pendidikan, keluarga dan masyarakat.
f)
Model
CEMREL model ini dikembangkan oleh Howard Russell, dan Louis Smith dengan
penekanan pada tiga segi, yaitu (1) fokus evaluasi yang menekankan pada peserta
didik, mediator dalam material, (2) peranan evaluasi adalah untuk evaluasi
kegiatan yang sedang berjalan dan
evaluasi pada akhir kegiatan, (3) data evaluasi bersumber dari pengukuran
skala, jawaban angket, dan obesrvasi.
g)
Model
Atkinson, yang mengemukakan tiga domain tujuan, yaitu (1) struktur, yang
mencakup perencanaan sekolah dan organisasi sekolah, (2) proses, yang mencakup
proses pembelajaran, dan (3) produk, yang mencakup prilaku sebagai belajar.
Model CIPP berorientasi pada suatu
keputusan (a decision oriented evaluation
approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administator (kepala
sekolah dan guru) didalam membuat keputusan. “Evalausi diartikan sebagai suatu proses mendeskripsikan,
memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif
keputusan” (Stufflebeam, 1973).
Sesuai dengan nama modelnya, model ini terbagi empat jenis kegiatan evaluasi,
yaitu:
a)
Context evaluation to serve planning
decision, yaitu
Konteks evaluasi untuk membantu administator merencanakan keputusan, menentukan
kebutuhan program, dan merumuskan tujuan program.
b)
Input evaluation, structuring
decision. kegiatan
evaluasi bertujuan untuk membantu mengukur keputusan, menentukan sumber-sumber
alternatif apa yang akan diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai
kebutuhan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.
c)
process evaluation to serve
implementing decision. kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk membantu melaksanakan keputusan.
d)
Product evaluation, to serve
recycling decision. kegiatan
evaluasi ini bertujuan untuk membantu keputusan selanjutnya.
Model ini menuntut agar hasil
evaluasi digunakan sebagai input untuk decision making dalam rangka
penyempurnakan sistem secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan adalah
penilaian acuan norma (PAN) dan penilaian acuan patokan (PAP).
f.
Model Alkin
Model ini diambil dari nama
pengembangnya, yaitu marvin Alkin (1969). Menurut Alkin. Evaluasi adalah suatu peoses untuk meyakinkan
keputusan, mengumpulkan informasi,
memilih informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun
laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif. Alkin
mengemukakan ada lima jenis evaluasi, yaitu:
a)
Sistem assessment, yaitu untuk memberikan informasi
tentang kedaan atau posisi dari suatu sistem.
b)
Program planning, yaitu untuk membantu pemilihan
program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.
c)
Program implememtation, yaitu untuk menyiapkan informasi
apakah suatu program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat
sebagaimana yang direncanakan.
d)
Program improvement, yaitu memberikan informasi tentang
bagaimana suatu program dapat berfungsi, bekerja atau berjalan.
e)
program certification, yaitu memberikan informasi tentang
nilai atau manfaat suatu program.
g.
Model Brinkerhoff
Robert O.Brinkerhoff (1987)
mengemukakan ada tiga jenise evaluasi yang disususn berdasarkan penggabungan
element-element yang sama, yaitu:
1.
Fixed
vs Emergent Evaluation Desgin
Pada umumnya, evaluasi formal yang
dibuat secara individual mengguanakan desain fixed, karena tujuan program sudah ditetapkan sebelumnya, begitu
juga dengan anggaran biaya dan organisasi pelaksana, yang semuanya dituangkan
dalam sebuah proposal evaluasi. Kegiatan-kegiatan evaluasi yang dilakukan dalam
desain fixed ini, antara lain menyusun
pertanyaan-pertanyaan, menyusun dan menyiapkan instrumen, menganalisis hasil
evaluasi, dan melaporkan hasil evaluasi secara formal kepada pihak-pihak yang
berkempentingan.
Sementara itu, dalam desain evaluasi emergent, tujuan evaluasi adalah untuk
beradaptasi dengan situasi yang sedang berlangsung dan berkembang, seperti
menampung pendapat audiensi, masalah-masalah, dan kegiatan program. Selama
proses evaluasi, seorang evaluator harus tetap menjalin komunikasi dan kontinu
dengan audensi, sehingga data dan informasi yang dikumpulkan tidak putus dan
tetap utuh. Dengan demikian, desain akan terus berkembang dan berubah sesuai
dengan situasi dan kondisi dilapangan.
2.
Formative
vs Summative Evaluation
Istilah formatif dan sumatif pertama
kali dipopulerkan oleh Michael Scriven. Evaluasi formatif berfungsi untuk
memperbaiki kurikulum dan pembelajaran, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi
untuk melihat kemanfaatan kurikulum dan pembelajaran secara menyeluruh.
Artinya, jika hasil kurikulum dan pembelajaran memang bermanfaat bagi semua
pihak yang terkait (terutama peserta didik) maka kurikulum dan pembelajaran
dapat dilanjutkan. Sebaliknya jika hasil kurikulum dan pembelajaran tidak
mempunyai manfaat, maka kurikulum dan pembelajaran. Oleh sebab itu, seorang
evaluator harus betul-betul memiliki kemampuan profesional dan dapat dipercaya
dalam menentukan keputusan tersebut. Fokus evaluasi sumatif adalah
variabel-variabel yang dianggap penting
dalam kurikulum dan pembelajaran.
3.
Desain
eksperimental dan desain quasi eksperimental vs natural inquiry
Desain eksperimental banyak
menggunakan pendekatan kuantitatif, random
sampling, memberikan keperluan, dan mengukur dampak. Tujuannya adalah untuk
menilai manfaat hasil percobaan program pembelajaran. Untuk itu, perlu dilakukan
manipulasi terhadap lingkungan dan pemilihan strategi yang dianggap pantas.
Dalam proses pengamatan dan wawancara, evaluator harus selalu merendah (how profile) sehingga program yang
dievaluasi tidak terancam dan berubah karena kehadiran evaluator.
Dalam desain evaluasi
natural-inkuiri, evaluator banyak menghabiskan waktu untuk melakukan pengamatan
dan wawancara dengan orang-orang terlibat. Kegiatan ini dilakukan secara
berkesinambungan dengan pendekatan informal. Di samping itu, evaluasitor juga dapat
menggunakan teknik studi dokumentasi.
h.
Illuminative Model (Malcolm Parlett
dan Hamilton)
Jika model measurement dan congruence lebih
berorientasi pada evaluasi kuantitatif-terstruktur, maka model ini lebih
menekankan pada evaluasi kualitatif-terbuka (open-ended). Kegitan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah
sebagai lingkungan material dan psikososial. Tujuan evaluasi adalah unbtuk
mempelajari secara cermat dan hati-hati terhadap pelaksanaan sistem
pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhinya, kelebihan dan kekurangan
sistem, dan pengaruh sistem terhadap pembelajaran belajar peserta didik. Hasil
evaluasi lebih bersifat deskriptif dn interpretasi, bukan pengukuran dan
prediksi. Model ini lebih banyak menggunakan judgement.
Fungsi evaluasi adalah sebagai input
untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka penyesuaian dan
penyempurnaan sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan. Objek evaluasi
model ini mencakup latar belakang dan perkembangan sistem pembelajaran, proses
pelaksanaan sistem pembelajaran, hasil belajar peserta didik,
kesukaran-kesukaran yang dialami dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan,
termasuk efek samping dari sistem pembelajaran itu sendiri. Cara-cara yang
digunakan tidak bersifat standar, tetapi bersifat fleksibel dan selektif.
Berdasarkan tujuan dan pendekatan evaluasi dalam model ini, maka ada tiga fase
evaluasi yang harus ditempuh, yaitu observe,
inquiry further, dan seek to explain.
i.
Model Responsif
Sebagaimana model illuminatif, model
ini juga menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik. Evaluasi tidak
berarti sebagai pengukuran melainkan pemberian makna atau melukiskan sebuah
realitas dari berbagai perspektif orang-orang yang terlibat, berminat dan
berkepentingan dengan program pembelajaran. Tujuan evaluasi adalah untuk
memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang
yang berbeda.instrumen yang digunakan pada umumnya mengandalkan observasi
langsung maupun tak langsung dengan interpretasi data yang impressionistik.
Langkah-langkah kegiatan evaluasi meliputi observasi, merekam hasil wawancara,
mengumpulkan data, mengecek pengetahuan awal (preliminary understanding) peserta didik, dan mengembangkan desain
atau model.
Hal yang penting dalam model
responsif adalah pengumpulan dan sitensis data.
sebuah dihentikan. Kelebihan
model ini adalah peka terhadap berbagai pandangan dan kemampuannya
mengakomodasi pendapat yang ambigius serta tidak fokus, sedangkan kekurangannya
antara lain: (a) pembuat keputusan sulit menentukan prioritas atau
penyederhanaan informasi, (b) tidak mungkin menampung semua sudut pandang dari
berbagai kelompok, (c) membutuhkan waktu dan tenaga.
Adapun model penilaian pada anak usia
dini dapat dilakukan antara lain melalui penilaian unjuk kerja, observasi,
anecdotal record, pemberian tugas, portopolio, dan penilaian diri.
·
Penilaian
unjuk kerja dilakuakan berdasarkan tugas anak didik dalam melakukan perbuatan
yang diamati misalnya berdoa, bernyanyi dan berolahraga.
·
Observasi
adalah cara pengumpulan data untuk mendapatkan informasi melalui pengamatan
langsung terhadap sikap dan perilaku anak. Untuk kepentingan tersebut,
diperlukan pedoman yang mengacu pada indicator yang ditetapkan.
·
Anecdotal
record atau catatan anekdot merupakan kumpulan catatan peristiwa-peristiwa
penting tentang sikap dan perilaku anak dalamsituasi tertentu. Catatan tersebut
dapat digunakan untuk mengetahui kreativitas anak baik yang bersifat positif
maupun negative, kemudian ditafsirkan guru sebagai bahan penilaian setiap akhir
semester. Catatan anekdot memiliki berbagai macam bentu yaitu : a). bentuk
evaluative, berupa pernyataan yang menerangkan penilaian guru berdasarkan
baik-buruk, yang diinginkan dan tidak, yang diterima atau tidak, b) bentuk
interpreatif, berupa penafsiran terhadap perilaku yang telah diamati oleh guru
dan didukung oleh faktor yang diamatinya. c) bentuk deskripsi umum, berupa
catatan pernyataan umum tentang perilaku anak didik dalam situasi tertentu. D)
bentuk deskripsi khusus, berupa catatan dan pernyataan khusus tentang perilaku
anak didik dalam situasi khusus.
·
Pemberian
tugas merupakan cara penilaian berupa tugas yang harus dikerjakan anak didik
dalam waktu tertentu baik secara perseorangan maupun kelompok. Misalnya anak
diberi tugas untuk melakukan percobaan tertentu.
·
Percakapan
dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan atau penalaran anak
mengetahui sesuatu. Percakapan merupakan pengumpulan data dengan jalan
mengadakan komunikasi dengan sumber informasi yang dilakukan dengan dialog (Tanya
jawab).
·
Portopolio
adalah kupulan tugas dan pekerjaan seseorang secara sistematis, dalam hal ini
guru dapat mengumpulkan karya anak selama mengikuti kegiatan pembelajaran.
Portopolio digunakan untuk mengukur prestasi belajar anak yang bertumpu pada perbedaan
individual
·
Penilaian
diri merupakan proses pengumplan informasi untuk membuat gambaran tentang
kondisi diri sendiri.
- Prosedur Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini
Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi
akan dipengaruhi pula oleh keberhasilan evaluator dalam melaksanakan prosedur
evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus
ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Dalam literatur evaluasi banyak dijumpai
prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya masing-masing. Namun, sekalipun
ada perbedaan langkah, bukanlah sesuatu yang prinsip karena prosedur intinya
hampir sama. Prosedur pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas :
a.
perencanaan
evaluasi, yang meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi,
menyusun kisi-kisi, mengembangkan draf instrumen, uji coba dan analisis,
merevisi dan menyusun instrumen final,
b.
pelaksanaan
evaluasi dan monitoring,
c.
pengolahan
data dan analisis,
d.
pelaporan
hasil evaluasi, dan
e.
pemanfaatan
hasil evaluasi.
Disamping itu baik buruknya evaluasi
ada ditangan evaluator, yaitu guru yang melaksanakan proses pembelajaran dalam
suatu bidang studi/mata pelajaran atau tim khusus yang dibentuk untuk melakukan
evaluasi program pembelajaran secara keseluruhan. Artinya, guru harus
bertanggung jawab juga dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Tanggung jawab
tersebut dapat ditunjukan dalam melaksanakan prosedur evaluasi yang baik, dapat
dipertanggungjawabkan dan bermakna bagi semua pihak.
·
Perencanaan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan
tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar
hasil yang diperolehdapat lebih maksimal. Namun banyak juga orang melaksanakan
suatu kegiatan tanpa perencanaan yang jelas sehinggahasilnyapun kurang
maksimal. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus dapat membuat perencanaan
evaluasi dengan baik. Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan
evaluasi adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan
memengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan memengaruhi keefektifan
prosedur evaluasi secara menyeluruh. W. James Popham (1974) mengemukakan kaksud
perencanaan evaluasi adalah : “ to
facilitate gathering data, thereby making possibe valid statements about the
effect or out comes of the progra, practice, or policy under study”.
Sehubungan hal tersebut, Robert H.
Devis, dkk. (1974) mengemukakan tiga kegunaan dari perencanaan evaluasi. Implikasinya
adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai
dan komprehensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan
langkah-langkah selanjutnya. Melalui perencanaan evaluasi yang matang inilah
kita dapat menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral objective) atau
indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi
yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat
·
Pentingnya Analisis
Kebutuhan
Pada dasarnya, analisis kebutuhan
merupakan bagian interal dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Analisis
kebutuhan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis kebutuhan
adalah pendekatan sistem sehingga model analisisnya disebut analisis sistem.
Langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam analisis sistem dapat mengikuti langkah-langkah metode pemecahan masalah
(problem solving method), yaitu mengidentifikasi dan mengklarifikasi masala,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan kesimpulan.
Melalui analisis kebutuhan, evaluator
akan memperoleh kejelasan masalah dala pembelajaran sehingga dapat memberikan
rekomendasi kepada pembuat atau penentu
kebijakan. Sehubungan dengan hal tersebut, evaluator harus memahami dengan
tepat apa, mengapa, bagaimana, kapan, dimana, dan siapa yang melakukan analisis
kebutuhan.
Analisis kebutuhan adalah suatu
proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mengidentifikasi kebutuhan dan
menentukan skala prioritas pemecahannya. Dalam program pembelajaran, kebutuhan
yang dimaksud merupakan suatu kondisi kesenjangan antara kondisi yang
diharapkan dengan kondisi nyata. Kebutuhan tersebut dapat terjadi pada diri
peserta didik dan guru, baik secara perseorangan maupun kelompok atau juga pada
institusi. Dasar pemikirannya adalah sering kali sekolah dan guru sudah
melakukan berbagai upaya maksimal untuk memanfaatkan sumber daya dalam sistem
pembelajaran.
Namun kenyataannya, masih ada saja
keluhan, kekecwaan atau kekurangan, seperti prestasi belajar peserta didik yang
kurang optimal. Analisis kebutuhan merupakan alat yang tepat untuk melakukan
perubahan yang rasional dan fungsional. Roger Kaufman dan Fenwick W. English
(1979) mendeskripsikan perbandingan antara upaya pemecahan masalah secara
tradisional dengan cara yang inovatif, yaitu menggambarkan proses penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam sebuah diagram atau bagan proses
yang menunjukkan posisi analisis kebutuhan.
Untuk apa pembelajaran dan apa yang
akan diajarkan?
|
Mengapa materi tersebut penting
untuk diajarkan?
|
Bagaimana mengajarkannya?
|
Tujuan dan materi
|
Analisi kebutuhan
|
Pendekatan dan strategi
|
Hal penting yang harus dipahami oleh
evaluator adalah ketika melakukan analisis kebutuhan dalam pembelajaran
hendaknya dimulai dari peserta didik, kemudian komponen-komponen yang terkait
dengannya.
Perencanaan evaluasi dapat ditinjau dari dua pedekatan,
yaitu:
1. Pendekatan
program pembelajaran. Suatu program minimal terdiri atas tiga dimensi, yaitu
input, proses, dan output. Dalam model evaluasi CIPP terdapat empat dimensi,
yaitu conteks, input, process and product. Disini evaluator harus menyusun
desain evaluasi yang dituangkan dalam bentuk proposal, karena melakukan
evaluasi sama halnya dengan melakukan pennelitian. Kegiatan evaluasi sama
dengan kegiatan penelitian. Bedanya, kegiatan evaluasi bertitik tolak dari
sebuah kriteria. Dengan demikian, proposal evaluasi sama dengan proposal
penelitian. Secara umum, sebuah proposal lengkap terdiri atas tiga bagian
besar, yaitu bagian pendahuluan, bagian metodologi dan bagian administrasi.
Bagian pendahuluan menjelaskan tentang model evaluasi, objek evaluasi, sumber
data, metode yang digunakan, instrumen evaluasi, analisis data. Bagian
administrasi meliputi susunan tim evaluator berikut dengan kualifikasinya, time
schedule dan perincian anggaran. Penjelasan tentang isi proposal, dapat dipelajari
dari buku-buku evaluasi program dan penelitian.
Perlu diketahui bahwa
instrumen evaluasi yang digunakan harus betul-betul meiliki karakteristik
instrumen yang baik, seperti validitas, relialibitas dan praktis. Untuk itu,
proses pengembangan instrumen harus mengikuti langkah-langkah standarisasi
sebuah instrumen evaluasi. Begitu juga dengan populasinya. Jika terlalu banyak
dan luas, sebaiknya diambil dengan teknik sampling.
2. Pendekatan
hasil belajar. Pendekatan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu domain
hasil belajar, proses dan hasil belajar, dan kompetensi. Disini perencanaan
evaluasi dilihat dalam perspektif penilaian hasil belajar.
Dalam perencanaan
penilaian hasil belajar, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti
merumuskan tujuan penilaian, mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar,
menyusun kisi-kisi atau blueprint, mengembangkan draft instrumen, uji coba dan
analisis instrumen, revisi dan merakit instrumen baru.
a. Menentukan
tujuan penilaian
Dalam kegiatan penilaian, tentu guru
mempunyai maksud atau tujuan tertentu.tujuan penilaian ini harus dirumuskan
secara jelas dan tegas serta ditentukan sejak awal, karena mejadi dasar untuk
menentukan arah, ruang lingkup materi, jenis/model, dan karater alat penilaian
tujuan penilaian jangan terlalu umum sehingga tidak menuntun guru dalam
menyusun soal. Dalam penilaian hasil belajar, ada empat kemungkinan tujuan
penilaian, yaitu untuk memperbaiki kinerja atau proses pembelajaran(sumatif),
untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses
pembelajaran (diagnostik), atau untuk menempatkan posisi peserta didik sesuai
dengan kemampuannya (penempatan). Dengan kata laian, tujuan penilaian harus
dirumuskan sesuai dengan jenis penilaian yang akan dilakukan, seperti penilaian
pormatif, sumatif, diagnostik, penempatan atau seleksi. Rumusan tujuan
penilaian harus memperhatikan domain hasil belajar, seperti domain kognitif,
domain afektif, dan domain psikomotor dari Bloom (1956) yang kemudian terkenal
dengan Taxonomy Bloom.
b. Mengidentifikasi
Kompetensi dan Hasil Belajar
Kompetensi
adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan
dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Peserta didik dianggap kompeten apabila
dia memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai untuk melakukan
sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis
kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil beajar sudah dirumuskan oleh tim
pengembang kurikulum, seperti standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar
dan indikator. Guru tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang akan dinilai.
c. Menyusun
kisi-kisi
Penyusunan
kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul representatif dan
relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru kepada peserta
didik. Jika materi penilaian tidak relevan dengan materi pelajaran yang telah
diberikan, maka akan berakibat hasil penilaian itu kurang baik. Begitu juga
jika materi penilaian terlalu banyak dibandingkan dengan materi pelajaran, maka
akan berakibat sama. Untuk melihat apakah materi penilaian relevan dengan
materi pelajaran atau apakah materi penilaian terlalu banyak atau kurang, guru
harus menyusun kisi-kisi (lay-out atau blue-print atau table of spesification).
Kisi-kisi
adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagai
topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu. Fungsi
kisi-kisi adalah sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi
perangkat tes. Kisi-kisi yang baik akan meperoleh perangkat soal yang relatif
sama sekalipun penulis soalnya berbeda. Dalam konteks penilaian hasil belajar,
kisi-kisi soal disusun berdasarkan silabus setiap mata pelajaran. Jadi, guru
harus melakukan analisis silabus terlebih dahulu sebelum menyusun kisi-kisi soal.
Perhatikan langkah-langkah berikut ini.
Langkah
ke 1 : analisis silabus
Langkah
ke 2 : menyususn kisi-kisi
Langkah
ke 3 : membuat soal
Langkah
ke 4 : menyusun lembar jawaban
Langkah
ke 5 : membuat kunci jawaban
Langkah
ke 6 : menyusun pedoman penskoran
a. Domain
psikomotor
Menirukan, menggunakan,
artikulasi (mengucapkan dengan nyata, menyatukan dengan menyambung),
mewujudkan, membina,menukar, membersihkan, menyusun, menghubungkan, melatih,
mengikuti membuat bagan, melokalisasi, mengikat, mencampur, mengasah/menajamkan,
mengaduk, mengerjakan dengan teliti, memulai, memanaskan, mengidentifikasi, dan
sebagainya. Eumusan indikator sebenarnya hampir sama dengan tujuan pembelajaran
khusus atau tujuan tingkah laku (behavioral objective). Bedanya, kalau tujuan pembelajaran
khusus harus dirumuskan dengan lengkap.
Lebih jauh S.J. Montage
dan J.J Koran (1969) mendefinisikan tujuan tingkah laku sebagai “tujuan tingkah
laku adalah tujuan atau hasil belajar yang diharapkan dan dinyatakan dalam
bentuk tingkah laku atau kinerja peserta didik yang dapat diamati dan diukur”.
Dalam kegiatan evaluasi, fungsi utama tujuan tingkah laku adalah sebagai alat
yang sistematis untung merancang cara-cara melakukan evaluasi terhadap tingkah
laku peserta didik.
Manfaat adanya
indikator adalah (1) guru dapat memilih materi, metode, media, dan sumber
belajar yang tepat, sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan, (2) sebagai
pedoman dan pegangan bagi guru untuk menyususn soal atau instrumen penilaian
lain yang tepat, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
telah ditetapkan. Untuk mengukur pencapaian target dalam indikator, sebaiknya
disusun butir soal dalam format khusus. Hal ini bermanfaat untuk menimbang
apakah rumusan indikator sudah benar atau belum, dan apakah sudah konsisten
antara indikator dengan butir soal.
Setelah dirumuskan
tujuan atau kompetensi secara terperinci, guru perlu menentukan ruang lingkup
materi pelajaran yang hendak diukur harus sesuai dengan silabus/kurikulum yang
digunakan agar derajat kesesuaian dapat diperoleh secara optimal. Selanjutnya,
ditentukan pula perbandingan bobot materi yang akan diukur. Berat ringannya
bobot tergantung bergantung pada urgensi materi dan kompetensi yang harus
dikuasai peserta didik. Disamping itu, guru harus menyusun pula bentuk soal
secara bervariasi. Artinya, bentuk soal tidak hanya satu bentuk, melainkan
menggunakan beberapa bentuk soal. Hal ini dimaksudkan agar kelemahan setiap
bentuk soal dapat ditutupi oleh bentuk soal yang lain.
Dalam kisi-kisi, guru
harus memperhatikan domain hasil belajar yang akan diukur, seperti telah
dikemukakan sebelumnya. Adapula sistematika yang lebih sederhana, yaitu aspek
recall, komprehensi, dan aplikasi. Aspek recall berkenaan dengan aspek-aspek
pengetahuan tentang istilah-istilah, definisi, fakta, konsep, metode, dan
prinsip-prinsip. Aspek komprehensi berkenaan dengan kemampuan-kemampuan, antara
lain: menjelaskan, menyimpulkan suatu informasi, menfsirkan fakta (grafik,
diagram, tabel, dll), mentransferkan pernyataan dari suatu bentuk kedalam
bentuk yang lain (misalnya dari pernyataan verbal ke non-verbal atau dari
verbal ke dalam bentuk rumus), memprakirakan akibat atau konsekwensi logis dari
suatu situasi. Aspek aplikasi meliputi kemampuan-kemampuan, antara lain:
menerapkan hukum/prinsip/teori dalam suasana yang sesungguhnya, memecahkan
masalah, membuat (grafik, diagram dan laian-lain), mendemonstrasikan penggunaan
suatu metode, prosedur, dan lain-lain.
Selain format kisi-kisi
di atas, ada juga format kisi-kisi terurai, dalam hal ini setiap tingkat
kesukaran soal harus ditetapkan jumlah soal yang termasuk sukar, sedang, dan
mudah. Adapun besar-kecilnya jumlah soal untuk tiap-tiap tingkat kesukaran
tidak ada yang mutlak. Biasanya, jumlah soal sedang lebih banyak daripada
jumlah soal mudah dan sukar, sedangkan jumlah soal mudah dan soal sukar sama
banyaknya. Misalnya, soalmudah ditentukan 30%, sedang 40%, dan sukar 30%.
b. Mengembangkan
Draf Instrumen
Mengembangkan draf
instrumen penilaian merupakan salah satu langkah penting dalam prosedur penilaian.
Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk tes maupun nontes. Dalam bentuk
tes, berarti guru harus membuat soal. Penulisan soal adalah penjabaran
indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan
pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan
bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas
butir soal akan menentukan kualitas tes secara keseluruhan. Setelah semua soal
ditulis, sebaiknya soal tersebut dibaca lagi, jika perlu didiskusikan kembali
dengan tim penelaah soal, baik dari ahli bahasa, ahli bidang studi, ahli
kurikulum, dan ahli evaluasi. Dalam bentuk nontes, guru dapat membuat angket,
pedoman observasi, pedoman wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, penilaian
bakat, minat, dan sebagainya.
c. Uji
Coba dan Analisis Soal
Jika semua soal sudah
disusun dengan baik, maka perlu diuji cobakan terlebih dahulu dilapangan.
Tujuannya utuk mengetahui soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan
dibuang sama sekali, serta soal-soal mana yang baik untuk dipergunakan
selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami beberapa kali uji
coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis empiris dan rasional. Analisis
empiris dimaksudkan untuk mengatahui kelemahan-kelemahan setiap soal yang
digunakan. Informasi empiri pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat
mempengaruhi validitas soal, seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat
kesukaran soal, bentuk jawaban, daya pembeda soal, pengaruh kultur, dan
sebagainya, sedangkan analisisi rasional dimaksudkan untuk memperbaiki
kelemakah-kelemahan setiap soal. Hal yang sama dilakukan pula terhadap istrumen
evaluasi dalam bentuk nontes.
Dalam melaksanakan uji
coba soal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
1) Ruangan
tempatnya tes hendaknya diusahakan seterang mungkin, jika perlu dibut papan
pengumuman di luar agar orang lain tahu bahwa ada tes yang sedang berlangsung.
2) Perlu
disusun tata tertib pelaksanaan tes, baik yang berkenaan dengan peserta didik
itu sendiri, guru, pengawas, maupun teknis pelaksanaan tes.
3) Para
pengawas tes harus mengontrol plaksanaan tes dengan ketat, tetapi tidak
menggangu suasana tes. Peserta didik yang melanggar tata tertib tes dapat
dikeluarkan dai ruangan tes.
4) Waktu
yang digunakan harus sesuai dengan banykanya soal yang diberikan sehingga
peserta didik dapat bekerja dengan baik. Kecepatan waktu sangat mempengaruhi
nilai kelompok dan cara-cara dalam mengusahakan supaya kelompok tetap bekerja
sebagai suatu kesatuan.
5) Peserta
didik harus benar-benar patuh mengerjakan semua petunjuk dan perintah dari
penguji. Sikap ini harus tetap dipelihara meskipun diberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apabila soal yang tidak dimengerti
atau kurang jelas. Tanggung jawab penguji dala hal inni dalah memberikan
petunjuk dengan sikap yang bersfat lugas, jujur, adil dan jelas. Namun, antara
penguji dan peserta didik hendaknya dapat meciptakan suasana yag kondusif.
6) Hasil
uji coba hendaknya diolah, dinalisis, dan diadministrasikan dengan baik
sehingga dapat diketahui soal-soal mana yang lemah untuk selanjutnya dapat
diperbaiki kembali.
d. Revisi
dan Merakit Soal (Instrumen Baru)
Setelah soal diuji coba
dan dianalisis, kemudian direvisi sesuai dengan proporsi tingkat kesukaran soal
dan daya pembeda. Dengan demikiann, ada soal yang masih dapat diperbaiki da
segi bahasa, ada juga soal yang harus direvisi total, baik yang meyangkut pokok
soal (stem) maupun alternatif jawaban (option), bahkan ada soal yang harus
dibuang atau disisihkan. Berdasarkan hasil revisi soal ini, barulah dilakukan
perakitan soal menjadi suatu instrumen yang terpadu. Untuk itu, semua hal yang
dapat memengaruhi validitas skor tes, seperti nomor urut soal, pengelompokan
bentuk soal, penataan soal, dan sebagainya haruslah diperhatikan.
A. Pelaksanaan
Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi
artinya bagaimana cara melaksanakan suatu evalusai sesuai dengan perencanaan
evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah disinggung semua hal yang berkaitan
dengan evaluasi. Artinya, tujuan evaluasi, model dan jenis evaluasi, objek evaluasi, instrumen evaluasi, sumber
data, semuanya sudah dipersiapkan pada tahap perencanaan evaluasi. Pelaksanaan
evaluasi sangat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Jenis evaluasi
yang digunakan akan memengaruhi seorang evaluator dalam menentukan prosedur,
metode, instrumen, waktu pelaksanaan, sumber data, dan sebagainya. Dalam
pelaksanaan penilaian hasil belajar, guru dapat mengunakan tes (tes tetulis,
tes lisan, dan tes perbuatan) maupun nontes (angket, observasi, wawancara,
studi dokumentasi, skala sikap, dan sebagainya). Dalam pelaksanaan tes maupun
nontes tersebut akan berbeda satu dengan lainnya, sesuai dengan tujuan dan
fungsinya masing-masing.
Dalam pelaksanaan tes
lisan, misalnya, guru harus memperhatikan tempat tes diadakan. Tempat ini harus
terang, enak dipandang dan tidak menyeramkan, sehingga peserta didika tidak
takut dan gugup. Guru harua dapat menciptakan suasana yang kondusif dan
komunikatif, tetapi bukan berarti menciptakan suasana tes lisan menjadi suasana
diskusi, debat atau ngobrol santai. Komunikatif dimaksudkan agar guru dapat
mengarahkan peserta didik, terutama bila jawaban peserta didik itu tidak sesuai
dengan apa yang kita maksudkan, sebalikya bukan dengan membentak-bentak peserta
didik. Mengarahkan berbeda dengan membantu. Mengarahkan berarti memberi
pengarahan secara umum untuk menggapai tujuan, sedangkan membantu berarti ada
kecenderungan untuk memberi bunyi jawaban kepada peserta didik, karena da rasa
simpati, kasihan, dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan tes
lisan, guru tidak boleh membentak-bentak peserta didik dan dilarang memberikan
kata-kata yang merupakan kunci jawaban. Ada baiknya, sebelum tes lisan dimulai,
guru menyiapkan pokok-pokok materi yang akan ditanyaka, sehingga tidak terkecoh
oleh jawaban peserta didik yang simpang siur. Ketika peserta didik masuk dan
duduk ditempat ujian, guru hendaknya tidak langsung memberikan
pertanyaan-pertanyaan, karena yakinlah bahwa siapapun yang menghadapi ujian tes
lisan pasti ada perasaan gugup. Oleh sebab itu, pada waktu muai tes lisan
(lebih kurang 2-3 menit), guru harus dapat menciptakan kondisi peserta didik
agar tidak gugup, seperti menanyakan identitas pribadi, pengalaman, kegiatan
sehari-hari, dan sebagainnya.
Pelaksanaan nontes
dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik
setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta didik terhadap kegiatan
pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi belajar dan mengajar,
dan sebagainya. Instrumen yang digunakan, antara lain angket, pedoman
observasi, pedoman wawancara, skala sikap, skala minat, daftar cek, rating
scale, anecdotal records, sosiometri, home visit, dan sebagainya. Guru dituntut
tidak hanya dapat membuat dan melaksanakan tes yang baik, tetapi juga harus
dapat membuat istrumen nontes dan melaksanakannya dengan baik sesuai dengan
prinsip-prinsip dan karakteristik instrumen evaluasi yang baik.
Tujuan pelaksanaan
evaluasi adalah untuk megumpulkan data dan informasi mengenai keseluruhan aspek
kepribadian dan prestasi belajar peserta didik yang melipuuti:
1. Data
pribadi (personal) peserta didik, sepert nama, tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin , alamat, golongan darah, dan laian-lain.
2. Data
tentang kesehatan peserta didik, seperpti penglihatan, pendengaran, penyakit
yang sering diderita, dan kondisi fisik.
3. Data
tentang prestasi belajar (achievement) peserta didik disekolah.
4. Data
tentang sikap (attitude) peserta didik, seperti sikap terhadap sesama teman
sebaya, sikap terhadap kegiatan pembelajaran, sikap terhadap guru dan kepala
sekolah, dan sikap terhadap lingkungan sosial.
5. Data
tentang bakat (aptitude) peserta didik, sepserti da tidaknya bakat dibidang
olahraga, keterampilan mekanis, manajemen, keskenian, dan keguruan.
6. Persoalan
penyesuaian (adjustment), sepeeti kegiatan anak diorganisasi sekolah, forum
ilmiah, olahraga, dan kepanduan.
7. Data
tentang minat (interest) peserta didik.
8. Data
tentang rencana massa depan peserta didik yang dibantu oleh guru dan orang tua
sesuai dengan kesanggupan anak.
9. Data
tentang latar belakang keluarga peserta didik, seperti pekerjaan orang tua,
penghasilan tetap tiap bulan, kondisi lingkungan, serta hubungan peserta didik
dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
Ada
kecenderungan pelaksanaan evaluasi selama ini kurang begitu memuaskan
(terutama) bagi peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara
lain: (a) proses dan hasil evaluasi kurang memberi keuntungan kepada peserta
didik, baik secara langsung maupun tidak langsung (b) penggunaan teknik dan
prosedur evaluasi yang kurang teapat berdasarkan apa yang sudah di pelajari
peserta didik (c) prinsip-prinsip umum evaluasi kurang diperimbangkan dan
pemberian skor cenderung tidak adil (d) cakupan evaluasi kurang memperhatikan
aspek-aspek penting dari pembelajaran.
Ada
beberapa hal yang memungkinkan timbulnya kealahan-kesalahan dalam pengumpulan
data yaitu sebagai berikut :
1. Kesalahan-kesalahan
yang mungkin ditimbulkan karena kurang sempurnanya instrumen evaluasi.
2. Kesalahan-kesalahan
yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sepurnanya prosedur pelaksanaan evaluasi
yag dilakukan.
3. Kesalahan
yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya cara pencatatan hasil
evaluasi.
B. Mentoring
Pelaksanaan Evaluasi
Langkah ini dilakukan
untuk melihat apakah pelaksanaa evaluasi pembalajaran telah sesuai dengan
perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan atau belum. Tujuannya dalah untuk
mencegah hal-hal yang negatif dan meningkatkan efisiensi pelaksanaa evaluasi.
Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertema, untuk melihat
relavansipelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Jika dalam
pelaksanaan evaluasi terjadai hal-al yang tidak diinginkan, maka evaluator
harus mencatat, melaporkan, dan menganalisis faktor-faktor penyebabnya. Dalam
pelaksanaan penilaian hasil belajar sering terjadi peserta didik menyontek
jawaban dari temanya, peserta didik mendapat bocoran jawaban soal, ada juga
peserta didik yang tiba-tiba sakit ketika mengerjakan soal, dan sebagainya.
Disinilah pentingnya monitoring pelaksanaan evaluasi.
Untuk melaksanakan
monitoring, evaluator dapat menggunakan beberapa teknik, seperti observasi
partisipatif, wawancara (bebas atau terstruktur), atau studi dokumentasi. Untuk
itu, evaluator harus membuat perencanaan moniroting sehingga dapat dirumuskan
tujuan, sasaran, data yang diperlukan, alat yang digunakan, dan pedoman
analisis pedoman hasil monitoring.
C. Pengelolaan
Data
Mengolah data berarti
mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah sajian data yang
menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi, ada yang berbentuk kualitatif, ada
juga yang berbentuk kuantitatif. Data kualaitatif tentu diolah dan dianalisisi
secara kualitataif, sedangkan data kuantitatif dioalh dan dianalisis dengan
bantuan statistika, baik statistika deskriptf, maupun ststistika inferesial.
Ada empat langka pokok
dalam mengolah hasil penilaian, yaitu:
1. Menskor,
yaitu memberikan skor pada hasil
evaluasi yang dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk menskor atau memberikan
angka diperlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci stkorng, dan
pedoman konversi.
2. Mengubah
skor mentah menjadi skor standar sesuai dengan norma tertentu.
3. Mengkonversikan
skor standar kedalam nilai, baik berupa huruf atau angka.
4. Melakaukan
analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat vaiditas dan
reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.
Jika
data sudah diolah dengan aturan-aturan tertentu, langkah selanjutnya dalah
menafsirkan data itu sehingga memberikan makna. Memberikan interpretasi
maksudnya adalah membuat pernyataan (statement) mengenai hasil pengolahan data.
Ada
dua jenis penafsiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual.
1. Penafsiran
kelmpok adalah penafsirang yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik
kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, sepeprti prestasi kelompok, rata0rata
kelopok, sikap kelompok terhdap guru dan materi pelajaran yang diberikan, dan
distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya dalah sebaga persiapan untuk
melakukan penafsiran kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu
kelompok, dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok.
2. Penafsiran
individual adalah penafsiran yang hanya dilakukan secara persperoangan.
Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau situasi klinis lainnya.
Tujuan utamanya dalah untuk melihat tingka kesiapan peserta didik (readiness),
pertumbuhan fisik, kamajuan belajar, dan
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya
Penilaian anak usia dini dapat dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut :
·
Merumuskan
kegiatan ( kegiatan yang dilakuakan harus tergambar pada program yang dibuatnya
yaitu SKH atau SKM, program yang disusun dan apa yang harus dicapai oleh
peserta didik terdapat dalam kompetensi, haasil belajar serta indicator
pembelajaran yang dirumuskan oleh guru)
·
Menyiapkan alat
penilaian (alat penilaian yang digunakan guru dapat dibuat sendiri atau
menggunakan yang sudah ada, dan sesuai dengan kebutuhan SKH yang dibuat)
· Menetapkan criteria penilaian (criteria penilaian
adalah petokan ukuran keberhasilan anak untuk mengumpulkan data dan menentukan nilai)
- Pelaporan Hasil Penilaian
Pelaporan penilaian merupakan
kegiatan untuk menjelaskan hasil penilaian guru terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak yang meliputi pembentukan prilaku dan kemampuan dasar. Tujuan
pelaporan adalah memberikan penjelasan kepada orang tua dan pihak lain yang
memerlukan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan serta hasil yang
dicapai oleh anak selama mereka berada pada PAUD.
Laporan penilaian bermanfaat sebagai
bahan masukan bagi orang tua untuk memahami anaknya. Melalui laporan penilaian
orang tua dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknyadalam pertumbuhan
dan perkembangannya. Berdasarkan pemahaman tersebut orang tua dan pihak yang
berkepentingan dapat menindak lanjuti dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan anak selanjutnya.
Menurut Departemen Pendidikan
Nasional (1995:265), langkah-langkah yang harus dipenuhi dalam penyusunan
laporan adalah sebagai berikut.
1. Tentukan
bentuk laporan yang akan dibuat (bentuk kartu atau buku).
2. Tetapkan
komponen-komponen yang akan dikembangkan dalam laporan (ssuai dengan kegiatan
yang telah dilakukan selama sebulan, satu semester atau lainnya).
3. Buat
rangkuman atau simpulan dari kumpulan data anak yang diperolah dari setiap
kegiatan dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan komponen yang telah
ditetapkan untuk dilaporkan dengan menggunakan kalimat yang mudah dimengerti
pembaca terutaman, orang tua (konkret dan menunjukana upaya yang harus
dilakukan berikutnya).
4. Mulaialah
menuliskan isi penilaian dalam format laporan yang telah ditetapkan terlebih
dalhulu.
Bila mengacu pada kurikulum tingkat
satuan pendidikan, berisi dua komponen utama, yaitu kemampuan dasar komponen
sikap dan prilaku. Kemampuan terdiri dari aspek pengembangan bahasa, daya
pikir, fisik, keteramplan dan daya cipta. Bentuk laporan dapat dikemas sesuai
dengan kebutuhan dan karakteristik lembaga dengan memperhatikan tujuan dan
manfaat pelaporan penilaian. Laporan dapat berbentuk kartu dan buku. Laporan
berisi komponen-komponen perkembangan belajar dan nilai dalam bentuk huruf.
Selain itu disediakan kolom catatan tentang hal yang terpenting dikemukakan
berkenaan dengan diri anak yang perlu diketahui ornang tua.
1) Bentuk kartu
Laporan berbentuk kartu berisi kompnen
perkembangan yang akan dilaporkan dan nilai yang diberikan dalam bentuk huruf.
Informasi tentang diri anak yang penting diketahui orang tua yang dikemukakan
dalam bentuk uaraian dituliskan dalam bentuk catatan.
HALAMAN DALAM DAN BELAKANG BERISI
KEMAMPUAN
|
HASIL BELAJAR
|
NILAI
|
KETERANGAN
|
FISIK
|
1. Motorik
halus
2. Motorik
kasar
|
||
BAHASA
|
1. Komunikasi
lisan
2. Perbendaharaan
kata
3. pengenalan
symbol
4. Membaca
gambar
5. Bahasa
isyarat
|
||
KOGNITIF
|
1. Pengenalan
benda disekitarnya
2. Pemahamn
konsep sains yang sederhana
3. Pengenalan
bilangan
4. Pengenalan
bentuk geometri
5. Pengenalan
ukuran
6. Pengenalan
konsep waktu
|
||
SOSIO- EMOSIONAL
|
1. Berinteraksi
dengan orang lain
2. Mengenal
disiplin
3. Menunjukan
emosi yang wajar
4. Menjaga
keamanan diri
5. Disiplin
6. Reaksi
emosi
|
||
SENI
|
1.
Menggambar sederhana
2.
Mewarnai
3.
Mencipta sesuatu
4.
Bergerak mengikuti
irama
5.
Bernyanyi
6.
Senam
|
||
MORAL DAN NILAI GAMA
|
1.
Berdo’a
2.
Mengenal ibadah
3.
Sopan santun
4.
Kebersihan
5.
Tanggung jawab
6.
Cinta tanah air
7.
Musyawarah mufakat
|
||
Catatan
|
|||
Mengetahui
Bandung; April 2012
Kepala Raudhatul Athfal
Guru
…………………………
…………………….
|
|||
Penilaian pendidkan anak usia dini
no
|
Indicator kompetensi (penilaian)
|
Semester I
|
Narasi
|
|||||
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|||
Sosial dan Emosional
|
||||||||
1
|
Mengucapkan terima kasih jika memperoleh sesuatu
|
|||||||
2
|
Menyebutkan mana yang salah dan benar pada suatu
persoalan
|
|||||||
3
|
Dating kesekolah tepat waktu
|
|||||||
4
|
Mentaati peraturan
|
|||||||
5
|
Menghormati orang tua
|
|||||||
6
|
Mendengar dan memerhatikan orang tua
|
|||||||
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
- Simpulan
a.
Evaluasi
pada pendidikan anak usia dini merupakan usaha untuk mendapatkan berbagai informasi
secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan hasil
dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai anak melalui kegiatan
belajar, bentuk penilaian di PAUD disebut asesmen yaitu suatu proses
pengamatan, pencatatan dan pendokumentasian kinerja dan karya anak didik dan
bagaimana ia melakukannya sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan anak,
dan perkembangan sosial emosional merupakan dua aspek yang berlainan namun
dalam kenyataannya satu sama lain saling mempengaruhi, perkembangan sosial merupakan
pencapaian kematangan dalam hubungan sosial dan perpaduan dari beberapa
perasaan yang mempunya intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu
gejolak suasana batin.
b.
model
evaluasi pada penilaian pada anak usia dini dapat dilakukan antara lain melalui
penilaian unjuk kerja, observasi, anecdotal record, pemberian tugas,
portopolio, dan penilaian diri.
c.
Penilaian
anak usia dini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : Merumuskan
kegiatan ( kegiatan yang dilakuakan harus tergambar pada program yang dibuatnya
yaitu SKH atau SKM), Menyiapkan alat penilaian dan menetapkan criteria
penilaian (mengumpulkan data dan menentukan nilai)
- Saran
a.
Bagi
penulis
·
Carilah
informasi dengan data yang sesuai
·
Pembagian
tugas yang baik pada anggota kelompok agar terkoordinir
b.
Bagi pembaca
·
Jagan
puas hanya mendapat pengetahuan dalam makalah ini
·
Buatlah
makalah yang baik dan sesuai aturan
·
Realisasikan
informasi yang didapat pada pembuatan tugas makalah anda.
DAFTAR PUSTAKA
Susanto, Ahmad. 2011. Pengembangan Anak Usia Dini. Kencana
Prenada Media Group : Jakarta
Mulyasa. 2012. Manajement PAUD. Remaja Rosdakarya :
Bandung
Arifin, Zaenal. 2012. Evaluasi Pembelajaran, Remaja Rosdakarya
: Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar