Selasa, 20 Mei 2014

evaluasi pengembangan emosi pada anak usia dini



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan dilakukan manusia sepanjang hayatnya atau dikenal dengan istilah long life education. Makna kata tersebut mengharuskan manusia untuk menjalani pendidikan selama manusia tersebut melakukan tugasnya setiap hari. Pendidikan anak usia dini merupakan jenjang pendidikan usia nol sampai enam tahun.
Usia nol sampai enam tahun merupakan masa peka bagi anak sehingga para ahli menyebutnya masa golden age, karena perkembangan kecerdasannya mengalami peningkatan yang sangat pesat dan sebagai penanaman karakter dimasa usia anak mencapai dewasa.
Pendidikan karakter pada anak usia dini dilakukan melalui penanaman kebiasaan tentang perilaku yang baik dalam kehidupan, sehingga anak memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, kepedulian serta menerapkan kebaikan dalam kehidupan sosial.
Perilaku sosial merupakan aktivitas yang dilakukan dengan berhubungan pada orang disekitar kita, baik itu keluarga, teman, guru dan masyarakat. Ketika anak berhubungan dengan orang lain maka akan terjadi interaksi sosial yang dapat memacu emosi yang diwujudkan dalam suatu tindakan.
Emosi merupakan suatu keadaan perasaan yang bergejolak dalam diri seseorang yang disadari dan dan diungkapkan melalui tindakan. Dalam pengungkapan emosi anak dalan kehidupan sosial maka dibutuhkan adanya evaluasi atau penilaian baik buruknya perilaku anak tersebut. Maka dari itu kami merasa tertarik untuk membahas tentang pengembangan sosial emosi pada anak usia dini dengan judul “Evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini”.
B.     Rumusan Masalah
Untuk mempermudah proses pembuatan makalah, maka kami merumuskan masalah-masalah sebagai berikut :
a.       Apa hakikat evaluasi pengembangan sosial emosi ?
b.      Bagaimana model evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini ?
c.       Bagaimana prosedur evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini ?
d.      Bagaimana prosedur penilaian sosial emosional pada anak usia dini ?

C.    Tujuan
Dengan melihat pada rumusan masalah yang dibuat, maka tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
a.       Untuk mengetahui hakikat evaluasi pengembangan sosial emosi
b.      Untuk mengetahui model evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
c.       Untuk mengetahui prosedur evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
d.      Untuk mengetahui prosedur penilaian sosial emosional pada anak usia dini

D.    Manfaat 
Dengan adanya penelitian ini maka banyak sekali manfaat yang diperoleh diantaranya :
a.       Bagi penulis :
·         Dapat memperoleh data dan informasi tentang evaluasi pengembangan emosi pada anak usia dini
·         Dapat mempererat kerjasama kelompok dalam menyusun makalah
·         Menambah pengalaman dan wawasan dalam pembuatan makalah
b.      Bagi pembaca :
·         Mendapatkan pengetahuan tentang evaluasi pengembangan sosial emosi pada anak usia dini
·         Untuk memotifasi agar mampu membuat makalah yang lebih baik
·         Mengenal dan mengetahui tentang proses pembuatan makalah yang baik

E.     Metode
Dalam penyusunan makalah ini metode-metode yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.       Pengumpulan data :
Yaitu pengumpulan data-data dari buku yang mencakup permasalahan yang akan dibahas oleh penulis.
b.      Kajian pustaka
Yaitu kajian mengenai keadaan riil lapangan antara konsep para ahli dan penelitian di lapagan.

F.     Sistematika Penulisan
BAB I             : Pendahuluan, meliputi : Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Manfaat, Metode, Sistematika Penulisan.
BAB II            : Pembahasan, meliputi : Hakikat Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi, Model Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini, Prosedur Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini, Pelaporan Evaluasi Penilaian Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini.
BAB III          : Kesimpulan dan Saran.
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Hakikat Evaluasi Pengembangan Sosial Emosi
a.      Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang tidak mungkin dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran diakhiri dengan kegiatan evaluasi  untuk dapat menilai proses dan hasil belajar secara objektif. Ada beberapa pengertian evaluasi menurut para ahli, sebagai berikut diantaranya :
a)      Linn dan Gronlund
Evaluasi merupakan proses yang sistematis untuk pengumpulan, penganalisisan, dan penafsiran data/informasi demi menentukan sejauh mana anak dapat mencapai tujuan pembelajaran.
b)      Ralph tayler
Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data dan menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.
c)      guba
Evaluasi merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu itu dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, dll.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, evaluasi merupakan suatu proses memilih, mengumpulkan dan menafsirkan data untuk membuat keputusan serta penyusunan program selanjutnya. Informasi hasil evaluasi diperlukan sebagai masukan bagi pengambilan keputusan mengenai program dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah mencapai tujuan atau belum.
Evaluasi pada pendidikan anak usia dini merupakan usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai anak melalui kegiatan belajar. Bentuk penilaian di PAUD atau TK disebut asesmen yaitu suatu proses pengamatan, pencatatan dan pendokumentasian kinerja dan karya anak didik dan bagaimana ia melakukannya sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan anak sebagai acuan langkah kedepannya. Beberapa pengertian asesmen menurut beberapa ahli yaitu  :
·         Menurut NSW departement of Education (dikutip Arthur, 1996:324)
Asesmen adalah proses pengumpulan fakta – fakta dan membuat keputusan tentang kebutuhan, kekuatan, kemampuan dan kemajuan siswa.
  • Menurut jamaris ( dalam makalah Asesmen Perkembangan Anak Usia TK berbasis kecerdasan Jamak, 2004 )
Asesmen merupakan suatu proses kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data atau bukti – bukti tentang perkembangan dan hasil belajar anak usia dini.
  • Menurut Hill (1993)
Asesmen adalah proses pengumpulan peristiwa / informasi dan mendokumentasikan pembelajaran dan pertumbuhan anak.
Asesmen tidak digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program tetapi untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan kemajuan belajar anak. Asesmen tidak dilakukan diakhir program tetapi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga kemajuan peserta didik dapat diketahui yaitu dengan mengamati tindak tanduk anak saat bermain, menggambar atau pun dari karya – karya anak yang lainnya.
b.      Perkembangan sosial emosional
Perkembangan sosial emosional merupakan dua aspek yang berlainan namun dalam kenyataannya satu sama lain saling mempengaruhi. Perkembangan sosial sangat erat hubungannya dengan perkembangan emosional, walaupun masing-masing ada kekhususannya. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Anak dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya, baik orangtua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.
Pengertian perkembangan sosial adalah sebuah proses interaksi yang dibangun oleh seseorang dengan orang lain. Perkembangan sosial ini berupa jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Perkembangan sosial adalah proses belajar mengenal normal dan peraturan dalam sebuah komunitas. Manusia akan selalu hidup dalam kelompok, sehingga perkembangan sosial adalah mutlak bagi setiap orang untuk di pelajari, beradaptasi dan menyesuaikan diri.
Sedangkan makna emosi menurut Sukmadinata (2003 : 80) yaitu sebagai perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunya intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif hingga yang bersifat negative. Dengan demikian dapat dipahami bahwa emosi adalah perasaan batin seseorang baik berupa pergolakan pikiran, napsu, keadaan mental, dan fisik yang dapat muncul atau termanifestasi kedalam bentuk-bentuk atau gejala-gejala seperti takut, cemas, marah, murung, kesal, iri, cemburu, senang, kasih sayang, dan ingin tahu.
Dalam kaitannya dengan proses sosial, emosi dapat muncul sebagai akibat adanya hubungan atau interaksi sosial antara individu, kelompok dan masyarakat. Emosi dapat muncul sebagai reaksi eaksi fisiologis, perasaan, dan perubahan perilaku yang tampak. Emosi pada anak usia dini lebih kompleks dan real, karena anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.
Secara umum emosi mempunyai fungsi untuk mencapai suatu pemuasan, pemenuhan, atau perlindungan diri, atau bahkan kesejahtraan pribadi pada saat keadaaan tidak nyaman dengan lingkungan atau objek tertentu.
c.       Hakikat evaluasi pengembangan sosial emosi
Pada hakikatnya evaluasi atau assessment pada pengembangan sosial emosional yaitu diantaranya :
·         Mengetahui tingkat pencapaian kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung
·         Memberikan umpan balik bagi anak didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam proses pencapaian kompetensi
·         Memberikan umpan balik bagi guru dalam mempperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran.
·         Bahan pertimbangan guru dalam menempatkan anak didik sesuai dengan minat dan kebutuhannya
·         Memberikan pilihan alternative pada guru
·         Bahan masukan bagi berbagai pihak dalam pembinaan selanjutnya terhadap anak didik
·         Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan anak

  1. Model Evaluasi Pengembangan Emosi pada Anak Usia Dini
Pada tahun 1949, Tyler pernah mengembangkan model black box. Setelah itu, belum terlihat ada model lain yang muncul kepermukaan. Lebih kurang 10 tahun lamanya, orang-orang yang melakukan kegiatan evaluasi hanya menggunakan model evaluasi tersebut. Hal ini mungkin disebabkan evaluasi belum menjadi studi tersendiri. Karena itu, orang banyak mempelajari evaluasi dari psikometrik dengan kajian utamanya adalah tes dan pengukuran. Oleh sebab itu, evaluasi banyak dilakukan oleh orang-orang yang “terbentuk” dalam tes dan pengukuran. Studi tentang evaluasi belum banyak menarik perhatian orang, karena kurang memiliki nilai praktis. Baru sekitar tahun 1960-an studi evaluasi mulai berdiri sendiri menjadi salah satu program studi di perguruan tinggi.
 Selanjutnya, sekitar tahun 1972, model evaluasi mulai berkembang. Tylor dan Cowley, misalnya berhasil mengumpulkan berbagai pemikiran tentang model evaluasi dan menerbitkannya dalam suatu buku. Model evaluasi yang dikembangkan lebih banyak menggunakan pendekatan positivisme yang berakar pada teori psikometrik. Penggunaan desain eksperimen seperti yang dikemukakaan Campbell dan Stanley (1963) menjadi ciri utama dari model evaluasi. Berkembangnya model evaluasi pada tahun 70-an tersebut diawali dengan adanya pandangan alternatif dari pada expert. Pandangan alternatif yang dilandasi sebuah paradigma fenomenologi banyak menampilkan model evaluasi.
Tes dan pengukuran tidak lagi menjadi parameter kualitas  suatu studi evaluasi yang dilakukan. Perkembangan lain yang menarik dalam model evaluasi ini adalah adanya suatu upaya untuk bersikap eklektik dalam penggunaan pendekatan positivisme maupun fenomenologi yang oleh Patton  (1980) disebut paradigm of choice.
Dalam studi tenteng evaluasi, banyak sekali dijumpai model-model evaluasi dengan format atau sistematika yang berbeda, sekalipun dalam beberapa model ada juga yang sama. Misalnya saja, Said HamidHasan (1988)mengelompokan model evaluasi sebagai berikut:
1.      Model evaluasi Kuantitatif , yang meliputi: model Tyler, model teoretik Taylor dan Maguire, model pendekatan sistem Alkin, model Countenance Stake, model CIPP, model ekonomi mikro.
2.      Model evaluasi Kualitatif, yang meliputi: model studi kasus, model iluminatif, dan model responsif.
Sementara itu, Kaufman dan Thomas dalam Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin AJ (2007) membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:
1.      Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tayler.
2.      Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
3.      Formatif Sumatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
4.      Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
5.      Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
6.      CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan.
7.      Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.
Ada juga model evaluasi yang dikelompokan oleh Nana Sudjana dan R.Ibrahim (2007 : 234) yang membagi model evaluasi menjadi empat model utama, yait”measurement, congruence, educational system dan illumination”. Dari beberapa diantaranya akan dikemukakan secara singkat sebagai berikut :
a.      Model Tyler
Nama model ini diambil dari nama pengembangnya yaitu Tyler. Dalam buku Besic Principles of Curiculum and Instrucution, Tyler banyak mengemukakan ide dan gagasannya tentang evaluasi. Model ini dibangun atas dua dasar. Pertama, evaluasi ditujukan pada tingkah laku peserta didik. Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegitan pembelajaran (hasil). Dasar pemikiran yang kedua ini menunjukan bahwa seseorang evaluator harus dapat menentukan perubahan tingkah laku apa yang terjadi setelah peserta didik mengikuti pengalaman belajar tertentu, dan menegaskan bahwa perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang disebabkan oleh pembelajaran.
Penggunaan model Tyler memerlukan informasi perubahan tingkah laku terutama pada saat sebelum dan sesudah terjadinya pembelajaran. Istilah yang populer di kalangan guru adalah tes awal (per-test) dan tes akhir (post-test). Model ini mensyaratkan validitas informasi pada tes akhir. Untuk menjamin validitas ini, maka perlu adanya kontrol dengan menggunakan desain eksperimen. Model tyler disebut juga model Black box karena model ini sangat menekankan adanya tes awal dan teks akhir. Dengan demikian, apa yang terjadi dalam proses tidak perlu diperhatikan. Dimensi proses ini dianggap sebagai kontak hitam yang menyimpan segala macam teka-teki.
Menurut Tyler, ada tiga pokok yang harus dilakukan, yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang akan dievaluasi, menentukan situsai di mana peserta didik memperoleh kesempatan untuk menunjukan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat evaluasi yang akan dipergunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.
b.      Model yang Berorientasi pada Tujuan
Dalam pembelajaran, kita mengenal adanya tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Kedua tujuan tersebut dipakai sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluasi diartikan sebagai proses pengukuran untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Model ini dianggap lebih praktis karena menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang logis antara kegiatan, hasil dan prosedur pengukuran hasil. Tujuan model ini adalah membantu guru merumuskan tujuan dan menjelaskan hubungan antara tujuan dengan kegiatan. Jika rumusan tujuan pembelajaran dapat diobservasi (observable) dan dapat diukur (measurable), maka kegiatan evaluasi pembelajaran akan menjadi lebih praktis dan simpel.
Disamping itu, model ini dapat membantu guru melaksanakan rencana pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan proses pencapaian tujuan. Instrumen yang digunakan bergantung pad tujuan yang ingin diukur. Hasil evaluasi akan menggambarkan tingkat keberhasilan tujuan program pembelajaran berdasarkan kriteria program khusus. Kelebihan model ini terletak pada peserta didik sebagai aspek penting dalam program pembelajaran. Kekurangannya adalah memungkinkan terjadinya proses evaluasi melebihi konsekuensi yang tidak diharapkan.
c.       Model Pengukuran
Model pengukuran (measurement model) banyak mengemukakan pemikiran-pemikiran dari R.Thorndike dan R.L.Ebel. Sesuai dengan namanya, model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran. Pengukuran digunakan untuk menentukan kuantitas suatu sifat (atribute) tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit ukuran tertentu. Dalam bidang pendidikan, model ini telah diterapkan untuk mengungkap perbedaan-perbedaan individual maupaun kelompok dalam hal kemampuan, minat, dan sikap. Hasil evalusai digunakan untuk keperluan seleksi peserta didik, bimbingan dan perencanaan pendidikan.
Objek evaluasi dalam model ini adalah tingkah laku peserta didik, mencakup hasil belajar (kognitif), pembawaan, sikap, minat, bakat dan juga aspek-aspek keperibadian peserta didik. Instrumen yang digunakan pada umumnya adalah tes tulis (paper and pencil test) dalam bentuk teks objektif, yang cenderung dibakukan. Oleh sebab itu, dalam menganalisis soal sangat memperhatikan difficulty index dan index of discimination. Model ini menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Norma (norm-refernced assessment).
d.      Model Kesesuaian (Ralph W.Tyler, John B.Carrol, and Lee J.Cronbach)
Menurut model ini, evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian (congruence) antara tujuan dengan hasil belajar yang telah dicapai. Hasil evaluasi yang digunakan untuk menyempurnakan sistem  bimbingan peserta didik dan untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak yang memerlukan.
Objek evaluasi adalah tingkah laku peserta didik, yaitu perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior)  pada akhir kegiatan pendidikan, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Untuk itu, teknik evaluasi yang digunakan tidak hanya tes (tulisan, lisan, dan perbuatan), tetapi juga non-tes (observasi, wawancara, skala sikap, dsb). Model evaluasi ini memerlukan informasi perubahan tingkah laku pada dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep itu, maka guru perlu melakukan pre and post-text.
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini adalah merumuskan tujuan tingkah laku (behavioural objectives), menentukan situasi dimana peserta didik dapat memperlihatkan tingkah laku yang akan dievaluasi, menyusun alat evaluasi, dan menggunakan hasil evaluasi. Oleh sebab itu, model ini menekankan pada pendekatan penilaian acuan patokan (criterion-referenced assessment).
e.       Educational System Evalu Ation Model (Daniel L. Stufflebeam Micheal Scriven, Robert E. Stake dan Malcolm M. Provus)
Tokoh model ini, antara lain: Daniel L.Stufflebeam, Michael Scriven, Robert E.Stake, dan Malcolm M.Provus. Menurut model ini, evaluasi berarti membandingkan performance dari berbagai dimensi(tidak hanya dimensi hasil saja) dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat mutlak/intren maupun relatif/ekstern. Model ini menekankansistem sebagai suatu keseluruhan ini dan merupakan penggabungan dari beberapa model, yaitu:
a)      Model countenance dari Stake, yang meliputi keadaan sebelum kegiatan berlangsung (antecedents), kegiatan yang terjadi dan saling mempengaruhi (transactions), hasil yang diperoleh (outcomes). Model ini akan diuraikan lebih lanjut.
b)      Model CIPP dan CDPP dari Stufflebeam, CIPP yaitu Context, Input, Process, dan Product. CDPP yaitu context, design, process, product.
c)      Model Scriven yang meliputi instrumental evaluation and consequential evaluation.
d)      Model Provus yang meliputi design, operation program, interim products, dan terminal products.
e)      Model EPIC (evaluative innovative curriculum). Model ini mengevaluasi: (1) perilaku, yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor; (2) pembelajaran, yang meliputi organisasi, isi, metode, fasilitas dan biaya; (3) institusi, yang meliputi peserta didik, guru, administrator, spesialis pendidikan, keluarga dan masyarakat.
f)       Model CEMREL model ini dikembangkan oleh Howard Russell, dan Louis Smith dengan penekanan pada tiga segi, yaitu (1) fokus evaluasi yang menekankan pada peserta didik, mediator dalam material, (2) peranan evaluasi adalah untuk evaluasi kegiatan yang sedang  berjalan dan evaluasi pada akhir kegiatan, (3) data evaluasi bersumber dari pengukuran skala, jawaban angket, dan obesrvasi.
g)      Model Atkinson, yang mengemukakan tiga domain tujuan, yaitu (1) struktur, yang mencakup perencanaan sekolah dan organisasi sekolah, (2) proses, yang mencakup proses pembelajaran, dan (3) produk, yang mencakup prilaku sebagai belajar.
Model CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a decision oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administator (kepala sekolah dan guru) didalam membuat keputusan. “Evalausi diartikan sebagai suatu proses mendeskripsikan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Stufflebeam, 1973). Sesuai dengan nama modelnya, model ini terbagi empat jenis kegiatan evaluasi, yaitu:
a)      Context evaluation to serve planning decision, yaitu Konteks evaluasi untuk membantu administator merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan program, dan merumuskan tujuan program.
b)      Input evaluation, structuring decision. kegiatan evaluasi bertujuan untuk membantu mengukur keputusan, menentukan sumber-sumber alternatif apa yang akan diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.
c)      process evaluation to serve implementing decision. kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk membantu melaksanakan keputusan.
d)     Product evaluation, to serve recycling decision. kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk membantu keputusan selanjutnya.
Model ini menuntut agar hasil evaluasi digunakan sebagai input untuk decision making dalam rangka penyempurnakan sistem secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan adalah penilaian acuan norma (PAN) dan penilaian acuan patokan (PAP).
f.       Model Alkin
Model ini diambil dari nama pengembangnya, yaitu marvin Alkin (1969). Menurut Alkin. Evaluasi adalah suatu peoses untuk meyakinkan keputusan,  mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif. Alkin mengemukakan ada lima jenis evaluasi, yaitu:
a)      Sistem assessment, yaitu untuk memberikan informasi tentang kedaan atau posisi dari suatu sistem.
b)      Program planning, yaitu untuk membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program.
c)      Program implememtation, yaitu untuk menyiapkan informasi apakah suatu program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat sebagaimana yang direncanakan.
d)     Program improvement, yaitu memberikan informasi tentang bagaimana suatu program dapat berfungsi, bekerja atau berjalan.
e)      program certification, yaitu memberikan informasi tentang nilai atau manfaat suatu program.
g.      Model Brinkerhoff
Robert O.Brinkerhoff (1987) mengemukakan ada tiga jenise evaluasi yang disususn berdasarkan penggabungan element-element yang sama, yaitu:
1.      Fixed vs Emergent Evaluation Desgin
Pada umumnya, evaluasi formal yang dibuat secara individual mengguanakan desain fixed, karena tujuan program sudah ditetapkan sebelumnya, begitu juga dengan anggaran biaya dan organisasi pelaksana, yang semuanya dituangkan dalam sebuah proposal evaluasi. Kegiatan-kegiatan evaluasi yang dilakukan dalam desain fixed  ini, antara lain menyusun pertanyaan-pertanyaan, menyusun dan menyiapkan instrumen, menganalisis hasil evaluasi, dan melaporkan hasil evaluasi secara formal kepada pihak-pihak yang berkempentingan.
Sementara itu, dalam desain evaluasi emergent, tujuan evaluasi adalah untuk beradaptasi dengan situasi yang sedang berlangsung dan berkembang, seperti menampung pendapat audiensi, masalah-masalah, dan kegiatan program. Selama proses evaluasi, seorang evaluator harus tetap menjalin komunikasi dan kontinu dengan audensi, sehingga data dan informasi yang dikumpulkan tidak putus dan tetap utuh. Dengan demikian, desain akan terus berkembang dan berubah sesuai dengan situasi dan kondisi dilapangan.
2.      Formative vs Summative Evaluation
Istilah formatif dan sumatif pertama kali dipopulerkan oleh Michael Scriven. Evaluasi formatif berfungsi untuk memperbaiki kurikulum dan pembelajaran, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi untuk melihat kemanfaatan kurikulum dan pembelajaran secara menyeluruh. Artinya, jika hasil kurikulum dan pembelajaran memang bermanfaat bagi semua pihak yang terkait (terutama peserta didik) maka kurikulum dan pembelajaran dapat dilanjutkan. Sebaliknya jika hasil kurikulum dan pembelajaran tidak mempunyai manfaat, maka kurikulum dan pembelajaran. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus betul-betul memiliki kemampuan profesional dan dapat dipercaya dalam menentukan keputusan tersebut. Fokus evaluasi sumatif adalah variabel-variabel yang dianggap penting  dalam kurikulum dan pembelajaran.
3.      Desain eksperimental dan desain quasi eksperimental vs natural inquiry
Desain eksperimental banyak menggunakan pendekatan kuantitatif, random sampling, memberikan keperluan, dan mengukur dampak. Tujuannya adalah untuk menilai manfaat hasil percobaan program pembelajaran. Untuk itu, perlu dilakukan manipulasi terhadap lingkungan dan pemilihan strategi yang dianggap pantas. Dalam proses pengamatan dan wawancara, evaluator harus selalu merendah (how profile) sehingga program yang dievaluasi tidak terancam dan berubah karena kehadiran evaluator.
Dalam desain evaluasi natural-inkuiri, evaluator banyak menghabiskan waktu untuk melakukan pengamatan dan wawancara dengan orang-orang terlibat. Kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan dengan pendekatan informal. Di samping itu, evaluasitor juga dapat menggunakan teknik studi dokumentasi.

h.      Illuminative Model (Malcolm Parlett dan Hamilton)
Jika model measurement dan congruence lebih berorientasi pada evaluasi kuantitatif-terstruktur, maka model ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif-terbuka (open-ended). Kegitan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial. Tujuan evaluasi adalah unbtuk mempelajari secara cermat dan hati-hati terhadap pelaksanaan sistem pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhinya, kelebihan dan kekurangan sistem, dan pengaruh sistem terhadap pembelajaran belajar peserta didik. Hasil evaluasi lebih bersifat deskriptif dn interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi. Model ini lebih banyak menggunakan judgement.
Fungsi evaluasi adalah sebagai input untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka penyesuaian dan penyempurnaan sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan. Objek evaluasi model ini mencakup latar belakang dan perkembangan sistem pembelajaran, proses pelaksanaan sistem pembelajaran, hasil belajar peserta didik, kesukaran-kesukaran yang dialami dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, termasuk efek samping dari sistem pembelajaran itu sendiri. Cara-cara yang digunakan tidak bersifat standar, tetapi bersifat fleksibel dan selektif. Berdasarkan tujuan dan pendekatan evaluasi dalam model ini, maka ada tiga fase evaluasi yang harus ditempuh, yaitu observe, inquiry further, dan seek to explain.
i.        Model Responsif
Sebagaimana model illuminatif, model ini juga menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik. Evaluasi tidak berarti sebagai pengukuran melainkan pemberian makna atau melukiskan sebuah realitas dari berbagai perspektif orang-orang yang terlibat, berminat dan berkepentingan dengan program pembelajaran. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.instrumen yang digunakan pada umumnya mengandalkan observasi langsung maupun tak langsung dengan interpretasi data yang impressionistik. Langkah-langkah kegiatan evaluasi meliputi observasi, merekam hasil wawancara, mengumpulkan data, mengecek pengetahuan awal (preliminary understanding) peserta didik, dan mengembangkan desain atau model.
Hal yang penting dalam model responsif adalah pengumpulan dan sitensis data.  sebuah  dihentikan. Kelebihan model ini adalah peka terhadap berbagai pandangan dan kemampuannya mengakomodasi pendapat yang ambigius serta tidak fokus, sedangkan kekurangannya antara lain: (a) pembuat keputusan sulit menentukan prioritas atau penyederhanaan informasi, (b) tidak mungkin menampung semua sudut pandang dari berbagai kelompok, (c) membutuhkan waktu dan tenaga.
Adapun model penilaian pada anak usia dini dapat dilakukan antara lain melalui penilaian unjuk kerja, observasi, anecdotal record, pemberian tugas, portopolio, dan penilaian diri.
·         Penilaian unjuk kerja dilakuakan berdasarkan tugas anak didik dalam melakukan perbuatan yang diamati misalnya berdoa, bernyanyi dan berolahraga.
·         Observasi adalah cara pengumpulan data untuk mendapatkan informasi melalui pengamatan langsung terhadap sikap dan perilaku anak. Untuk kepentingan tersebut, diperlukan pedoman yang mengacu pada indicator yang ditetapkan.
·         Anecdotal record atau catatan anekdot merupakan kumpulan catatan peristiwa-peristiwa penting tentang sikap dan perilaku anak dalamsituasi tertentu. Catatan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kreativitas anak baik yang bersifat positif maupun negative, kemudian ditafsirkan guru sebagai bahan penilaian setiap akhir semester. Catatan anekdot memiliki berbagai macam bentu yaitu : a). bentuk evaluative, berupa pernyataan yang menerangkan penilaian guru berdasarkan baik-buruk, yang diinginkan dan tidak, yang diterima atau tidak, b) bentuk interpreatif, berupa penafsiran terhadap perilaku yang telah diamati oleh guru dan didukung oleh faktor yang diamatinya. c) bentuk deskripsi umum, berupa catatan pernyataan umum tentang perilaku anak didik dalam situasi tertentu. D) bentuk deskripsi khusus, berupa catatan dan pernyataan khusus tentang perilaku anak didik dalam situasi khusus.
·         Pemberian tugas merupakan cara penilaian berupa tugas yang harus dikerjakan anak didik dalam waktu tertentu baik secara perseorangan maupun kelompok. Misalnya anak diberi tugas untuk melakukan percobaan tertentu.
·         Percakapan dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengetahuan atau penalaran anak mengetahui sesuatu. Percakapan merupakan pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber informasi yang dilakukan dengan dialog (Tanya jawab).
·         Portopolio adalah kupulan tugas dan pekerjaan seseorang secara sistematis, dalam hal ini guru dapat mengumpulkan karya anak selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Portopolio digunakan untuk mengukur prestasi belajar anak yang bertumpu pada perbedaan individual
·         Penilaian diri merupakan proses pengumplan informasi untuk membuat gambaran tentang kondisi diri sendiri.

  1. Prosedur Pengembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Dini
Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh keberhasilan evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Dalam literatur evaluasi banyak dijumpai prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya masing-masing. Namun, sekalipun ada perbedaan langkah, bukanlah sesuatu yang prinsip karena prosedur intinya hampir sama. Prosedur pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas :
a.       perencanaan evaluasi, yang meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi, menyusun kisi-kisi, mengembangkan draf instrumen, uji coba dan analisis, merevisi dan menyusun instrumen final,
b.      pelaksanaan evaluasi dan monitoring,
c.       pengolahan data dan analisis,
d.      pelaporan hasil evaluasi, dan
e.       pemanfaatan hasil evaluasi.
Disamping itu baik buruknya evaluasi ada ditangan evaluator, yaitu guru yang melaksanakan proses pembelajaran dalam suatu bidang studi/mata pelajaran atau tim khusus yang dibentuk untuk melakukan evaluasi program pembelajaran secara keseluruhan. Artinya, guru harus bertanggung jawab juga dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Tanggung jawab tersebut dapat ditunjukan dalam melaksanakan prosedur evaluasi yang baik, dapat dipertanggungjawabkan dan bermakna bagi semua pihak.
·         Perencanaan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperolehdapat lebih maksimal. Namun banyak juga orang melaksanakan suatu kegiatan tanpa perencanaan yang jelas sehinggahasilnyapun kurang maksimal. Oleh sebab itu, seorang evaluator harus dapat membuat perencanaan evaluasi dengan baik. Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan evaluasi adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan memengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan memengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh. W. James Popham (1974) mengemukakan kaksud perencanaan evaluasi adalah : “ to facilitate gathering data, thereby making possibe valid statements about the effect or out comes of the progra, practice, or policy under study”.
Sehubungan hal tersebut, Robert H. Devis, dkk. (1974) mengemukakan tiga kegunaan dari perencanaan evaluasi. Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan komprehensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Melalui perencanaan evaluasi yang matang inilah kita dapat menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral objective) atau indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat
·         Pentingnya Analisis Kebutuhan
Pada dasarnya, analisis kebutuhan merupakan bagian interal dari sistem pembelajaran secara keseluruhan. Analisis kebutuhan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis kebutuhan adalah pendekatan sistem sehingga model analisisnya disebut analisis sistem.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam analisis sistem dapat mengikuti langkah-langkah metode pemecahan masalah (problem solving method), yaitu mengidentifikasi dan mengklarifikasi masala, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan kesimpulan.
Melalui analisis kebutuhan, evaluator akan memperoleh kejelasan masalah dala pembelajaran sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pembuat atau  penentu kebijakan. Sehubungan dengan hal tersebut, evaluator harus memahami dengan tepat apa, mengapa, bagaimana, kapan, dimana, dan siapa yang melakukan analisis kebutuhan.
Analisis kebutuhan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan skala prioritas pemecahannya. Dalam program pembelajaran, kebutuhan yang dimaksud merupakan suatu kondisi kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi nyata. Kebutuhan tersebut dapat terjadi pada diri peserta didik dan guru, baik secara perseorangan maupun kelompok atau juga pada institusi. Dasar pemikirannya adalah sering kali sekolah dan guru sudah melakukan berbagai upaya maksimal untuk memanfaatkan sumber daya dalam sistem pembelajaran.
Namun kenyataannya, masih ada saja keluhan, kekecwaan atau kekurangan, seperti prestasi belajar peserta didik yang kurang optimal. Analisis kebutuhan merupakan alat yang tepat untuk melakukan perubahan yang rasional dan fungsional. Roger Kaufman dan Fenwick W. English (1979) mendeskripsikan perbandingan antara upaya pemecahan masalah secara tradisional dengan cara yang inovatif, yaitu menggambarkan proses penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam sebuah diagram atau bagan proses yang menunjukkan posisi analisis kebutuhan.
Untuk apa pembelajaran dan apa yang akan diajarkan?
Mengapa materi tersebut penting untuk diajarkan?
Bagaimana mengajarkannya?
Tujuan dan materi
Analisi kebutuhan
Pendekatan dan strategi
Hal penting yang harus dipahami oleh evaluator adalah ketika melakukan analisis kebutuhan dalam pembelajaran hendaknya dimulai dari peserta didik, kemudian komponen-komponen yang terkait dengannya.
Perencanaan evaluasi dapat ditinjau dari dua pedekatan, yaitu:
1.      Pendekatan program pembelajaran. Suatu program minimal terdiri atas tiga dimensi, yaitu input, proses, dan output. Dalam model evaluasi CIPP terdapat empat dimensi, yaitu conteks, input, process and product. Disini evaluator harus menyusun desain evaluasi yang dituangkan dalam bentuk proposal, karena melakukan evaluasi sama halnya dengan melakukan pennelitian. Kegiatan evaluasi sama dengan kegiatan penelitian. Bedanya, kegiatan evaluasi bertitik tolak dari sebuah kriteria. Dengan demikian, proposal evaluasi sama dengan proposal penelitian. Secara umum, sebuah proposal lengkap terdiri atas tiga bagian besar, yaitu bagian pendahuluan, bagian metodologi dan bagian administrasi. Bagian pendahuluan menjelaskan tentang model evaluasi, objek evaluasi, sumber data, metode yang digunakan, instrumen evaluasi, analisis data. Bagian administrasi meliputi susunan tim evaluator berikut dengan kualifikasinya, time schedule dan perincian anggaran. Penjelasan tentang isi proposal, dapat dipelajari dari buku-buku evaluasi program dan penelitian.
Perlu diketahui bahwa instrumen evaluasi yang digunakan harus betul-betul meiliki karakteristik instrumen yang baik, seperti validitas, relialibitas dan praktis. Untuk itu, proses pengembangan instrumen harus mengikuti langkah-langkah standarisasi sebuah instrumen evaluasi. Begitu juga dengan populasinya. Jika terlalu banyak dan luas, sebaiknya diambil dengan teknik sampling.
2.      Pendekatan hasil belajar. Pendekatan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu domain hasil belajar, proses dan hasil belajar, dan kompetensi. Disini perencanaan evaluasi dilihat dalam perspektif penilaian hasil belajar.
Dalam perencanaan penilaian hasil belajar, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, seperti merumuskan tujuan penilaian, mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar, menyusun kisi-kisi atau blueprint, mengembangkan draft instrumen, uji coba dan analisis instrumen, revisi dan merakit instrumen baru.
a.       Menentukan tujuan penilaian
Dalam kegiatan penilaian, tentu guru mempunyai maksud atau tujuan tertentu.tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas serta ditentukan sejak awal, karena mejadi dasar untuk menentukan arah, ruang lingkup materi, jenis/model, dan karater alat penilaian tujuan penilaian jangan terlalu umum sehingga tidak menuntun guru dalam menyusun soal. Dalam penilaian hasil belajar, ada empat kemungkinan tujuan penilaian, yaitu untuk memperbaiki kinerja atau proses pembelajaran(sumatif), untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostik), atau untuk menempatkan posisi peserta didik sesuai dengan kemampuannya (penempatan). Dengan kata laian, tujuan penilaian harus dirumuskan sesuai dengan jenis penilaian yang akan dilakukan, seperti penilaian pormatif, sumatif, diagnostik, penempatan atau seleksi. Rumusan tujuan penilaian harus memperhatikan domain hasil belajar, seperti domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor dari Bloom (1956) yang kemudian terkenal dengan Taxonomy Bloom.
b.      Mengidentifikasi Kompetensi dan Hasil Belajar
Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Peserta didik dianggap kompeten apabila dia memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai untuk melakukan sesuatu setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil beajar sudah dirumuskan oleh tim pengembang kurikulum, seperti standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator. Guru tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang akan dinilai.
c.       Menyusun kisi-kisi
Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-betul representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah diberikan oleh guru kepada peserta didik. Jika materi penilaian tidak relevan dengan materi pelajaran yang telah diberikan, maka akan berakibat hasil penilaian itu kurang baik. Begitu juga jika materi penilaian terlalu banyak dibandingkan dengan materi pelajaran, maka akan berakibat sama. Untuk melihat apakah materi penilaian relevan dengan materi pelajaran atau apakah materi penilaian terlalu banyak atau kurang, guru harus menyusun kisi-kisi (lay-out atau blue-print atau table of spesification).
Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan distribusi item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan jenjang kemampuan tertentu. Fungsi kisi-kisi adalah sebagai pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi perangkat tes. Kisi-kisi yang baik akan meperoleh perangkat soal yang relatif sama sekalipun penulis soalnya berbeda. Dalam konteks penilaian hasil belajar, kisi-kisi soal disusun berdasarkan silabus setiap mata pelajaran. Jadi, guru harus melakukan analisis silabus terlebih dahulu sebelum menyusun kisi-kisi soal. Perhatikan langkah-langkah berikut ini.
Langkah ke 1 : analisis silabus
Langkah ke 2 : menyususn kisi-kisi
Langkah ke 3 : membuat soal
Langkah ke 4 : menyusun lembar jawaban
Langkah ke 5 : membuat kunci jawaban
Langkah ke 6 : menyusun pedoman penskoran
a.       Domain psikomotor
Menirukan, menggunakan, artikulasi (mengucapkan dengan nyata, menyatukan dengan menyambung), mewujudkan, membina,menukar, membersihkan, menyusun, menghubungkan, melatih, mengikuti membuat bagan, melokalisasi, mengikat, mencampur, mengasah/menajamkan, mengaduk, mengerjakan dengan teliti, memulai, memanaskan, mengidentifikasi, dan sebagainya. Eumusan indikator sebenarnya hampir sama dengan tujuan pembelajaran khusus atau tujuan tingkah laku (behavioral objective). Bedanya, kalau tujuan pembelajaran khusus harus dirumuskan dengan lengkap.
Lebih jauh S.J. Montage dan J.J Koran (1969) mendefinisikan tujuan tingkah laku sebagai “tujuan tingkah laku adalah tujuan atau hasil belajar yang diharapkan dan dinyatakan dalam bentuk tingkah laku atau kinerja peserta didik yang dapat diamati dan diukur”. Dalam kegiatan evaluasi, fungsi utama tujuan tingkah laku adalah sebagai alat yang sistematis untung merancang cara-cara melakukan evaluasi terhadap tingkah laku peserta didik.
Manfaat adanya indikator adalah (1) guru dapat memilih materi, metode, media, dan sumber belajar yang tepat, sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan, (2) sebagai pedoman dan pegangan bagi guru untuk menyususn soal atau instrumen penilaian lain yang tepat, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Untuk mengukur pencapaian target dalam indikator, sebaiknya disusun butir soal dalam format khusus. Hal ini bermanfaat untuk menimbang apakah rumusan indikator sudah benar atau belum, dan apakah sudah konsisten antara indikator dengan butir soal.
Setelah dirumuskan tujuan atau kompetensi secara terperinci, guru perlu menentukan ruang lingkup materi pelajaran yang hendak diukur harus sesuai dengan silabus/kurikulum yang digunakan agar derajat kesesuaian dapat diperoleh secara optimal. Selanjutnya, ditentukan pula perbandingan bobot materi yang akan diukur. Berat ringannya bobot tergantung bergantung pada urgensi materi dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Disamping itu, guru harus menyusun pula bentuk soal secara bervariasi. Artinya, bentuk soal tidak hanya satu bentuk, melainkan menggunakan beberapa bentuk soal. Hal ini dimaksudkan agar kelemahan setiap bentuk soal dapat ditutupi oleh bentuk soal yang lain.
Dalam kisi-kisi, guru harus memperhatikan domain hasil belajar yang akan diukur, seperti telah dikemukakan sebelumnya. Adapula sistematika yang lebih sederhana, yaitu aspek recall, komprehensi, dan aplikasi. Aspek recall berkenaan dengan aspek-aspek pengetahuan tentang istilah-istilah, definisi, fakta, konsep, metode, dan prinsip-prinsip. Aspek komprehensi berkenaan dengan kemampuan-kemampuan, antara lain: menjelaskan, menyimpulkan suatu informasi, menfsirkan fakta (grafik, diagram, tabel, dll), mentransferkan pernyataan dari suatu bentuk kedalam bentuk yang lain (misalnya dari pernyataan verbal ke non-verbal atau dari verbal ke dalam bentuk rumus), memprakirakan akibat atau konsekwensi logis dari suatu situasi. Aspek aplikasi meliputi kemampuan-kemampuan, antara lain: menerapkan hukum/prinsip/teori dalam suasana yang sesungguhnya, memecahkan masalah, membuat (grafik, diagram dan laian-lain), mendemonstrasikan penggunaan suatu metode, prosedur, dan lain-lain.
Selain format kisi-kisi di atas, ada juga format kisi-kisi terurai, dalam hal ini setiap tingkat kesukaran soal harus ditetapkan jumlah soal yang termasuk sukar, sedang, dan mudah. Adapun besar-kecilnya jumlah soal untuk tiap-tiap tingkat kesukaran tidak ada yang mutlak. Biasanya, jumlah soal sedang lebih banyak daripada jumlah soal mudah dan sukar, sedangkan jumlah soal mudah dan soal sukar sama banyaknya. Misalnya, soalmudah ditentukan 30%, sedang 40%, dan sukar 30%.
b.      Mengembangkan Draf Instrumen
Mengembangkan draf instrumen penilaian merupakan salah satu langkah penting dalam prosedur penilaian. Instrumen penilaian dapat disusun dalam bentuk tes maupun nontes. Dalam bentuk tes, berarti guru harus membuat soal. Penulisan soal adalah penjabaran indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas butir soal akan menentukan kualitas tes secara keseluruhan. Setelah semua soal ditulis, sebaiknya soal tersebut dibaca lagi, jika perlu didiskusikan kembali dengan tim penelaah soal, baik dari ahli bahasa, ahli bidang studi, ahli kurikulum, dan ahli evaluasi. Dalam bentuk nontes, guru dapat membuat angket, pedoman observasi, pedoman wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, penilaian bakat, minat, dan sebagainya.
c.       Uji Coba dan Analisis Soal
Jika semua soal sudah disusun dengan baik, maka perlu diuji cobakan terlebih dahulu dilapangan. Tujuannya utuk mengetahui soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali, serta soal-soal mana yang baik untuk dipergunakan selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami beberapa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis empiris dan rasional. Analisis empiris dimaksudkan untuk mengatahui kelemahan-kelemahan setiap soal yang digunakan. Informasi empiri pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal, seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesukaran soal, bentuk jawaban, daya pembeda soal, pengaruh kultur, dan sebagainya, sedangkan analisisi rasional dimaksudkan untuk memperbaiki kelemakah-kelemahan setiap soal. Hal yang sama dilakukan pula terhadap istrumen evaluasi dalam bentuk nontes.
Dalam melaksanakan uji coba soal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
1)      Ruangan tempatnya tes hendaknya diusahakan seterang mungkin, jika perlu dibut papan pengumuman di luar agar orang lain tahu bahwa ada tes yang sedang berlangsung.
2)      Perlu disusun tata tertib pelaksanaan tes, baik yang berkenaan dengan peserta didik itu sendiri, guru, pengawas, maupun teknis pelaksanaan tes.
3)      Para pengawas tes harus mengontrol plaksanaan tes dengan ketat, tetapi tidak menggangu suasana tes. Peserta didik yang melanggar tata tertib tes dapat dikeluarkan dai ruangan tes.
4)      Waktu yang digunakan harus sesuai dengan banykanya soal yang diberikan sehingga peserta didik dapat bekerja dengan baik. Kecepatan waktu sangat mempengaruhi nilai kelompok dan cara-cara dalam mengusahakan supaya kelompok tetap bekerja sebagai suatu kesatuan.
5)      Peserta didik harus benar-benar patuh mengerjakan semua petunjuk dan perintah dari penguji. Sikap ini harus tetap dipelihara meskipun diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apabila soal yang tidak dimengerti atau kurang jelas. Tanggung jawab penguji dala hal inni dalah memberikan petunjuk dengan sikap yang bersfat lugas, jujur, adil dan jelas. Namun, antara penguji dan peserta didik hendaknya dapat meciptakan suasana yag kondusif.
6)      Hasil uji coba hendaknya diolah, dinalisis, dan diadministrasikan dengan baik sehingga dapat diketahui soal-soal mana yang lemah untuk selanjutnya dapat diperbaiki kembali.
d.      Revisi dan Merakit Soal (Instrumen Baru)
Setelah soal diuji coba dan dianalisis, kemudian direvisi sesuai dengan proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Dengan demikiann, ada soal yang masih dapat diperbaiki da segi bahasa, ada juga soal yang harus direvisi total, baik yang meyangkut pokok soal (stem) maupun alternatif jawaban (option), bahkan ada soal yang harus dibuang atau disisihkan. Berdasarkan hasil revisi soal ini, barulah dilakukan perakitan soal menjadi suatu instrumen yang terpadu. Untuk itu, semua hal yang dapat memengaruhi validitas skor tes, seperti nomor urut soal, pengelompokan bentuk soal, penataan soal, dan sebagainya haruslah diperhatikan.
A.    Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan suatu evalusai sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah disinggung semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Artinya, tujuan evaluasi, model dan jenis evaluasi,  objek evaluasi, instrumen evaluasi, sumber data, semuanya sudah dipersiapkan pada tahap perencanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sangat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan. Jenis evaluasi yang digunakan akan memengaruhi seorang evaluator dalam menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu pelaksanaan, sumber data, dan sebagainya. Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar, guru dapat mengunakan tes (tes tetulis, tes lisan, dan tes perbuatan) maupun nontes (angket, observasi, wawancara, studi dokumentasi, skala sikap, dan sebagainya). Dalam pelaksanaan tes maupun nontes tersebut akan berbeda satu dengan lainnya, sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing.
Dalam pelaksanaan tes lisan, misalnya, guru harus memperhatikan tempat tes diadakan. Tempat ini harus terang, enak dipandang dan tidak menyeramkan, sehingga peserta didika tidak takut dan gugup. Guru harua dapat menciptakan suasana yang kondusif dan komunikatif, tetapi bukan berarti menciptakan suasana tes lisan menjadi suasana diskusi, debat atau ngobrol santai. Komunikatif dimaksudkan agar guru dapat mengarahkan peserta didik, terutama bila jawaban peserta didik itu tidak sesuai dengan apa yang kita maksudkan, sebalikya bukan dengan membentak-bentak peserta didik. Mengarahkan berbeda dengan membantu. Mengarahkan berarti memberi pengarahan secara umum untuk menggapai tujuan, sedangkan membantu berarti ada kecenderungan untuk memberi bunyi jawaban kepada peserta didik, karena da rasa simpati, kasihan, dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan tes lisan, guru tidak boleh membentak-bentak peserta didik dan dilarang memberikan kata-kata yang merupakan kunci jawaban. Ada baiknya, sebelum tes lisan dimulai, guru menyiapkan pokok-pokok materi yang akan ditanyaka, sehingga tidak terkecoh oleh jawaban peserta didik yang simpang siur. Ketika peserta didik masuk dan duduk ditempat ujian, guru hendaknya tidak langsung memberikan pertanyaan-pertanyaan, karena yakinlah bahwa siapapun yang menghadapi ujian tes lisan pasti ada perasaan gugup. Oleh sebab itu, pada waktu muai tes lisan (lebih kurang 2-3 menit), guru harus dapat menciptakan kondisi peserta didik agar tidak gugup, seperti menanyakan identitas pribadi, pengalaman, kegiatan sehari-hari, dan sebagainnya.
Pelaksanaan nontes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi belajar dan mengajar, dan sebagainya. Instrumen yang digunakan, antara lain angket, pedoman observasi, pedoman wawancara, skala sikap, skala minat, daftar cek, rating scale, anecdotal records, sosiometri, home visit, dan sebagainya. Guru dituntut tidak hanya dapat membuat dan melaksanakan tes yang baik, tetapi juga harus dapat membuat istrumen nontes dan melaksanakannya dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip dan karakteristik instrumen evaluasi yang baik.
Tujuan pelaksanaan evaluasi adalah untuk megumpulkan data dan informasi mengenai keseluruhan aspek kepribadian dan prestasi belajar peserta didik yang melipuuti:
1.      Data pribadi (personal) peserta didik, sepert nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin , alamat, golongan darah, dan laian-lain.
2.      Data tentang kesehatan peserta didik, seperpti penglihatan, pendengaran, penyakit yang sering diderita, dan kondisi fisik.
3.      Data tentang prestasi belajar (achievement) peserta didik disekolah.
4.      Data tentang sikap (attitude) peserta didik, seperti sikap terhadap sesama teman sebaya, sikap terhadap kegiatan pembelajaran, sikap terhadap guru dan kepala sekolah, dan sikap terhadap lingkungan sosial.
5.      Data tentang bakat (aptitude) peserta didik, sepserti da tidaknya bakat dibidang olahraga, keterampilan mekanis, manajemen, keskenian, dan keguruan.
6.      Persoalan penyesuaian (adjustment), sepeeti kegiatan anak diorganisasi sekolah, forum ilmiah, olahraga, dan kepanduan.
7.      Data tentang minat (interest) peserta didik.
8.      Data tentang rencana massa depan peserta didik yang dibantu oleh guru dan orang tua sesuai dengan kesanggupan anak.
9.      Data tentang latar belakang keluarga peserta didik, seperti pekerjaan orang tua, penghasilan tetap tiap bulan, kondisi lingkungan, serta hubungan peserta didik dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
Ada kecenderungan pelaksanaan evaluasi selama ini kurang begitu memuaskan (terutama) bagi peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain: (a) proses dan hasil evaluasi kurang memberi keuntungan kepada peserta didik, baik secara langsung maupun tidak langsung (b) penggunaan teknik dan prosedur evaluasi yang kurang teapat berdasarkan apa yang sudah di pelajari peserta didik (c) prinsip-prinsip umum evaluasi kurang diperimbangkan dan pemberian skor cenderung tidak adil (d) cakupan evaluasi kurang memperhatikan aspek-aspek penting dari pembelajaran.
Ada beberapa hal yang memungkinkan timbulnya kealahan-kesalahan dalam pengumpulan data yaitu sebagai berikut :
1.      Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan karena kurang sempurnanya instrumen evaluasi.
2.      Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sepurnanya prosedur pelaksanaan evaluasi yag dilakukan.
3.      Kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya cara pencatatan hasil evaluasi.
B.     Mentoring Pelaksanaan Evaluasi
Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaa evaluasi pembalajaran telah sesuai dengan perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan atau belum. Tujuannya dalah untuk mencegah hal-hal yang negatif dan meningkatkan efisiensi pelaksanaa evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertema, untuk melihat relavansipelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Jika dalam pelaksanaan evaluasi terjadai hal-al yang tidak diinginkan, maka evaluator harus mencatat, melaporkan, dan menganalisis faktor-faktor penyebabnya. Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar sering terjadi peserta didik menyontek jawaban dari temanya, peserta didik mendapat bocoran jawaban soal, ada juga peserta didik yang tiba-tiba sakit ketika mengerjakan soal, dan sebagainya. Disinilah pentingnya monitoring pelaksanaan evaluasi.
Untuk melaksanakan monitoring, evaluator dapat menggunakan beberapa teknik, seperti observasi partisipatif, wawancara (bebas atau terstruktur), atau studi dokumentasi. Untuk itu, evaluator harus membuat perencanaan moniroting sehingga dapat dirumuskan tujuan, sasaran, data yang diperlukan, alat yang digunakan, dan pedoman analisis pedoman hasil monitoring.
C.     Pengelolaan Data
Mengolah data berarti mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi, ada yang berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif. Data kualaitatif tentu diolah dan dianalisisi secara kualitataif, sedangkan data kuantitatif dioalh dan dianalisis dengan bantuan statistika, baik statistika deskriptf, maupun ststistika inferesial.
Ada empat langka pokok dalam mengolah hasil penilaian, yaitu:
1.      Menskor, yaitu memberikan skor  pada hasil evaluasi yang dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk menskor atau memberikan angka diperlukan tiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci stkorng, dan pedoman konversi.
2.      Mengubah skor mentah menjadi skor standar sesuai dengan norma tertentu.
3.      Mengkonversikan skor standar kedalam nilai, baik berupa huruf atau angka.
4.      Melakaukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat vaiditas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.
Jika data sudah diolah dengan aturan-aturan tertentu, langkah selanjutnya dalah menafsirkan data itu sehingga memberikan makna. Memberikan interpretasi maksudnya adalah membuat pernyataan (statement) mengenai hasil pengolahan data.
Ada dua jenis penafsiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual.
1.      Penafsiran kelmpok adalah penafsirang yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, sepeprti prestasi kelompok, rata0rata kelopok, sikap kelompok terhdap guru dan materi pelajaran yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya dalah sebaga persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok, dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok.
2.      Penafsiran individual adalah penafsiran yang hanya dilakukan secara persperoangan. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau situasi klinis lainnya. Tujuan utamanya dalah untuk melihat tingka kesiapan peserta didik (readiness), pertumbuhan fisik, kamajuan belajar,  dan kesulitan-kesulitan  yang dihadapinya
Penilaian anak usia dini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
·   Merumuskan kegiatan ( kegiatan yang dilakuakan harus tergambar pada program yang dibuatnya yaitu SKH atau SKM, program yang disusun dan apa yang harus dicapai oleh peserta didik terdapat dalam kompetensi, haasil belajar serta indicator pembelajaran yang dirumuskan oleh guru)
·         Menyiapkan alat penilaian (alat penilaian yang digunakan guru dapat dibuat sendiri atau menggunakan yang sudah ada, dan sesuai dengan kebutuhan SKH yang dibuat)
·   Menetapkan criteria penilaian (criteria penilaian adalah petokan ukuran keberhasilan anak untuk mengumpulkan data dan menentukan nilai)
  1. Pelaporan Hasil Penilaian
Pelaporan penilaian merupakan kegiatan untuk menjelaskan hasil penilaian guru terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yang meliputi pembentukan prilaku dan kemampuan dasar. Tujuan pelaporan adalah memberikan penjelasan kepada orang tua dan pihak lain yang memerlukan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan serta hasil yang dicapai oleh anak selama mereka berada pada PAUD.
Laporan penilaian bermanfaat sebagai bahan masukan bagi orang tua untuk memahami anaknya. Melalui laporan penilaian orang tua dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknyadalam pertumbuhan dan perkembangannya. Berdasarkan pemahaman tersebut orang tua dan pihak yang berkepentingan dapat menindak lanjuti dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (1995:265), langkah-langkah yang harus dipenuhi dalam penyusunan laporan adalah sebagai berikut.
1.      Tentukan bentuk laporan yang akan dibuat (bentuk kartu atau buku).
2.      Tetapkan komponen-komponen yang akan dikembangkan dalam laporan (ssuai dengan kegiatan yang telah dilakukan selama sebulan, satu semester atau lainnya).
3.      Buat rangkuman atau simpulan dari kumpulan data anak yang diperolah dari setiap kegiatan dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan komponen yang telah ditetapkan untuk dilaporkan dengan menggunakan kalimat yang mudah dimengerti pembaca terutaman, orang tua (konkret dan menunjukana upaya yang harus dilakukan berikutnya).
4.      Mulaialah menuliskan isi penilaian dalam format laporan yang telah ditetapkan terlebih dalhulu.
Bila mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan, berisi dua komponen utama, yaitu kemampuan dasar komponen sikap dan prilaku. Kemampuan terdiri dari aspek pengembangan bahasa, daya pikir, fisik, keteramplan dan daya cipta. Bentuk laporan dapat dikemas sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lembaga dengan memperhatikan tujuan dan manfaat pelaporan penilaian. Laporan dapat berbentuk kartu dan buku. Laporan berisi komponen-komponen perkembangan belajar dan nilai dalam bentuk huruf. Selain itu disediakan kolom catatan tentang hal yang terpenting dikemukakan berkenaan dengan diri anak yang perlu diketahui ornang tua.
1)        Bentuk kartu
Laporan berbentuk kartu berisi kompnen perkembangan yang akan dilaporkan dan nilai yang diberikan dalam bentuk huruf. Informasi tentang diri anak yang penting diketahui orang tua yang dikemukakan dalam bentuk uaraian dituliskan dalam bentuk catatan.
HALAMAN DALAM DAN BELAKANG BERISI
KEMAMPUAN
HASIL BELAJAR
NILAI
KETERANGAN
FISIK
1.      Motorik halus
2.      Motorik kasar


BAHASA
1.      Komunikasi lisan
2.      Perbendaharaan kata
3.      pengenalan symbol
4.      Membaca gambar
5.      Bahasa isyarat


KOGNITIF
1.      Pengenalan benda disekitarnya
2.      Pemahamn konsep sains yang sederhana
3.      Pengenalan bilangan
4.      Pengenalan bentuk geometri
5.      Pengenalan ukuran
6.      Pengenalan konsep waktu


SOSIO- EMOSIONAL
1.       Berinteraksi dengan orang lain
2.       Mengenal disiplin
3.       Menunjukan emosi yang wajar
4.       Menjaga keamanan diri
5.       Disiplin
6.       Reaksi emosi


SENI
1.        Menggambar sederhana
2.        Mewarnai
3.        Mencipta sesuatu
4.        Bergerak mengikuti irama
5.        Bernyanyi
6.        Senam


MORAL DAN NILAI GAMA
1.        Berdo’a
2.        Mengenal ibadah
3.        Sopan santun
4.        Kebersihan
5.        Tanggung jawab
6.        Cinta tanah air
7.        Musyawarah mufakat




Catatan


         Mengetahui                                                                         Bandung; April 2012

Kepala Raudhatul Athfal                                                                                         Guru


…………………………                                                           …………………….




Penilaian pendidkan anak usia dini
no
Indicator kompetensi (penilaian)
Semester I
Narasi
7
8
9
10
11
12

Sosial dan Emosional







1
Mengucapkan terima kasih jika memperoleh sesuatu







2
Menyebutkan mana yang salah dan benar pada suatu persoalan







3
Dating kesekolah tepat waktu







4
Mentaati peraturan







5
Menghormati orang tua







6
Mendengar dan memerhatikan orang tua









BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan
a.       Evaluasi pada pendidikan anak usia dini merupakan usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai anak melalui kegiatan belajar, bentuk penilaian di PAUD disebut asesmen yaitu suatu proses pengamatan, pencatatan dan pendokumentasian kinerja dan karya anak didik dan bagaimana ia melakukannya sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan anak, dan perkembangan sosial emosional merupakan dua aspek yang berlainan namun dalam kenyataannya satu sama lain saling mempengaruhi, perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial dan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunya intensitas yang relative tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin.
b.      model evaluasi pada penilaian pada anak usia dini dapat dilakukan antara lain melalui penilaian unjuk kerja, observasi, anecdotal record, pemberian tugas, portopolio, dan penilaian diri.
c.       Penilaian anak usia dini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : Merumuskan kegiatan ( kegiatan yang dilakuakan harus tergambar pada program yang dibuatnya yaitu SKH atau SKM), Menyiapkan alat penilaian dan menetapkan criteria penilaian (mengumpulkan data dan menentukan nilai)
  1. Saran
a.       Bagi penulis
·         Carilah informasi dengan data yang sesuai
·         Pembagian tugas yang baik pada anggota kelompok agar terkoordinir
b.      Bagi pembaca
·         Jagan puas hanya mendapat pengetahuan dalam makalah ini
·         Buatlah makalah yang baik dan sesuai aturan
·         Realisasikan informasi yang didapat pada pembuatan tugas makalah anda.

DAFTAR PUSTAKA

Susanto, Ahmad. 2011. Pengembangan Anak Usia Dini. Kencana Prenada Media Group : Jakarta
Mulyasa. 2012. Manajement PAUD. Remaja Rosdakarya : Bandung
Arifin, Zaenal. 2012. Evaluasi Pembelajaran, Remaja Rosdakarya : Bandung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar